Page 212 - index
P. 212
200 Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme
hilang, kalau ada paksaan. Oleh sebab itu, dalam memilih buku bacaan,
unsur paksaan ini harus dihilangkan atau setidaknya diminimalkan. Dalam
hubungan ini, sikap persuasif dan kooperatif adalah cara dan pendekatan
yang terbaik untuk dikembangkan. Remaja hendaknya diberi kebebasan
memilih buku bacaannya sendiri dan biarkan mereka berkembang dengan
imajinasinya sendiri, karena berbagai studi telah membuktikan bahwa
meningkatnya aktivitas membaca untuk kesenangan, ternyata justru
berkolerasi positif dengan meningkatnya prestasi akademik siswa dan
kemampuan literasi mereka. Sebuah perpustakaan sekolah dan seorang
pustakawan yang berkeinginan untuk merangsang tumbuhnya minat
membaca siswa, misalnya, maka selain harus menyediakan berbagai jenis
kepustakaan di bidang akademik yang lengkap dan up to date, yang tak
kalah penting adalah di sana juga harus disediakan berbagai jenis bacaan
non-akademik yang populer dengan tujuan untuk memancing tumbuhnya
semangat belajar dan peluang siswa meraih prestasi akademik yang lebih
baik.
Studi yang dilakukan Arthur (1995), Strauss (1998), dan Block &
Mangieri (2002), menemukan bahwa aktivitas membaca untuk kesenangan
terbukti tidak malah membuat remaja menjadi lupa diri, atau mengganti
sama sekali aktivitas remaja membaca untuk kepentingan sekolah,
justru yang terjadi aktivitas membaca untuk kesenangan ternyata malah
mendorong peningkatan kemampuan literasi, penguasaan kosa kata menjadi
lebih banyak dan prestasi akademik siswa di sekolah juga ikut terdongkrak.
Dengan kata lain, aktivitas membaca untuk kesenangan yang dilakukan
remaja urban seyogianya tidak pagi-pagi divonis sebagai aktivitas yang
sekadar hanya manghabiskan waktu luang dan bersifat pleasure, tetapi jika
kita mampu mengelolanya dengan baik, justru aktivitas ini akan menjadi
“pintu masuk” untuk mendorong tumbuhnya budaya dan perilaku gemar
membaca yang merupakan modal dasar untuk mengembangkan sumber
daya manusia yang berkualitas (*).

