Page 210 - index
P. 210
198 Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme
hakekatnya adalah bagian dan refl eksi dari gaya hidup dan aktivitas yang
menyenangkan, sehingga untuk menumbuhkembangkan perilaku gemar
membaca di kalangan remaja, maka langkah awal yang dibutuhkan adalah
kesediaan untuk memahami bahwa aktivitas membaca benar-benar harus
menjadi bagian dari aktivitas dan proses pembelajaran yang menyenangkan
(joyfull learning).
Secara garis besar, berdasar dari apa yang ditemukan dari studi ini, ada
dua implikasi praktis yang perlu diperhatikan agar upaya menumbuhkan
minat dan perilaku gemar membaca di kalangan remaja dapat berjalan
efektif.
Pertama, bagaimana meyakinkan kepada remaja dan siswa bahwa
membaca bukanlah kegiatan yang membebani, sebaliknya membaca adalah
kegiatan yang menyenangkan karena ada sejumlah “nilai lebih” yang dapat
dipetik dari kegiatan membaca itu. Dalam konteks ini, para pustakawan dan
pendidik perlu memahami apa yang disebut Adorno sebagai ersatz —yakni
“nilai pakai kedua” dari sebuah produk yang ditawarkan. Semua siswa
niscaya sudah seringkali mendengar bahwa dengan membaca wawasan
mereka bakal bertambah. Tetapi, barangkali tidak semua siswa paham bahwa
di balik aktivitas membaca yang kelihatannya melelahkan dan jauh lebih
tidak menarik bila dibandingkan menonton televisi itu, ternyata memiliki
nilai plus yang lain: menghibur, menaikkan status sosial anak, bisa menjadi
modal atau investasi bagi anak memasuki dunia pergaulan yang lebih
luas, bisa dijadikan sarana untuk mencuri perhatian guru dan orang tua,
dan sebagainya. Pendek kata, kegiatan membaca seyogianya tidak semata-
mata dikaitkan dengan persoalan akademik, tetapi membaca sesungguhnya
adalah bagian dari life style. Sekadar contoh: menyelenggarakan sebuah acara
pemilihan Siswa Idola atau pemberian “Kutu Buku Award”, yang dikemas
seperti format pemilihan Indonesian Idol –sebuah kontes untuk memilih
penyanyi idola atas dasar hitungan jumlah SMS yang dikirim publik--,
misalnya adalah salah satu program yang menarik dikembangkan sekolah
untuk menumbuhkan kebanggaan siswa agar gemar membaca.
Kedua, bagaimana cara kita mencari “pintu masuk” agar membaca
dapat lebih cepat diterima sebagai sebuah kebutuhan oleh remaja dan siswa.
Selain sikap empatif —memahami kondisi dan karakteristik psikologis

