Page 206 - index
P. 206
194 Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme
perlawanan mereka terhadap kekuatan kapitalisme yang berusaha
mengkonstruk mereka dengan kekuatan iklan maupun proses komodifi kasi
budaya –walaupun tidak ada jaminan hal ini akan selalu berhasil dalam
setiap kesempatan dan waktu.
Menyangkal pasivitas konsumsi di sini bukan berarti menolak bahwa
kadangkala konsumsi itu pasif: mengingkari bahwa konsumen budaya pop
bukan korban penipuan budaya bukan berarti menyangkal bahwa sekali
waktu kita semua bisa menjadi korban penipuan. Melainkan, ini berarti
menolak bahwa budaya pop sama sekali tidak lebih dari budaya yang
terdegredasi, yang selalu berhasil ditimpakan dari atas, untuk meraup
keuntungan dan menjamin kontrol ideologis. Seperti dikatakan Storey
(2007), penting kiranya membedakan antara kekuatan industri budaya dan
kekuatan pengaruhnya, karena keduanya terlalu sering dicampuradukkan,
padahal keduanya tidak selalu sama.
Strinati (2007: 44) menyatakan bahwa secara internal produk budaya
massa sendiri sebetulnya memiliki keberagaman. Pertama, budaya populer
beranekaragam karena terbuka untuk berbagai macam pemanfaatan
dan interpretasi oleh bermacam-macam kelompok yang ada di dalam
masyarakat. Kedua, budaya populer itu sendiri harus dipandang sebagai
sekumpulan genre, teks, citraan, dan representasi yang bermacam-macam
dan bervariasi yang dapat dijumpai dalam berbagai macam media. Dengan
makin berkembangnya ragam produk industri budaya, yang di dalamnya
bahkan tak jarang terjadi persaingan dan ketegangan, maka secara obyektif
harus diakui agak sukar membayangkan bahwa dalam proses komodifi kasi
budaya populer selalu identik dengan homogenitas dan standarisasi yang
sifatnya uniform. Artinya, meskipun sama-sama sebagai bagian dari remaja
urban yang menjadi target pasar bagi kekuatan industri budaya, tidak selalu
remaja yang satu akan mengembangkan selera dan cita rasa yang sama.
Studi ini menemukan, selera dan cita rasa terhadap bacaan, ternyata se-
lain dipengaruhi kekuatan industri budaya, juga dibentuk oleh pe ngalaman
sehari-hari remaja di luar hal-hal yang berkaitan dengan gaya hidup dan
konsumerisme. Seperti ditemukan dalam studi ini, seorang remaja yang
suatu saat diajak orang tuanya berlibur ke China, misalnya, berkunjung ke
Forbiden City, menelusuri tradisi kekaisaran China dan semacamnya, keti-

