Page 203 - index
P. 203

Upaya Pengembangan Perilaku Gemar Membaca dari Perspektif Cultural Studies   191


              pendek yang cenderung mengalihkan perhatian orang dari masalah riil
              mereka dan mengidealisasikan masa kini dengan menjadikan pengalaman
              representasinya menyenangkan (Agger, 2003: 180-181). Semacam kenikmatan
              semu, karena dibangun dari kesadaran yang sifatnya semu pula.
                    Studi ini, tidak hanya berbeda dalam beberapa hal dengan pemikiran
              Mazhab Frankfurt, tetapi sebagian yang lain juga berbeda dengan pemikiran
              Teori Postmodernisme. Menurut Teori Postmodern, bahwa tanda-tanda
              budaya populer maupun citra media semakin banyak mendominasi rasa
              realitas kita, bagaimana kita mendefi nisikan diri kita maupun dunia di
              sekitar kita (Strinati, 207: 256). Dengan kata lain, Postmodern menyetujui
              dan memahami bahwa masyarakat atau tepatnya konsumen cenderung
              hanya menjadi korban dan dibentuk oleh kekuatan media yang makin
              jenuh. Ekonomi dan budaya populer, menurut Mazhab Postmodern adalah
              dua hal yang sulit dipisahkan. Apa yang kita beli dan apa yang menentukan
              apa yang kita beli, semakin dipengaruhi oleh budaya populer. Konsumsi
              semakin terikat pada budaya populer, karena budaya populer semakin
              menentukan konsumsi.
                    Dalam dunia posmo tampilan permukaan gaya juga dipahami menjadi
              lebih penting dan pada gilirannya menyebabkan citraan mendominasi narasi.
              Artinya, masyarakat menjadi semakin sering mengkonsumsi citra maupun
              tanda itu sendiri, dan bukannya manfaatnya atau nilai-nilai yang lebih dalam
              yang disimbolisasikan (Strinati, 2007: 257). Menurut pandangan pemikir
              Post-modernisme seperti Jean Baudrillard, (2006) bahwa penampakan gaya
              yang lahir dari kegilaan manusia mengkonsumsi barang tidak hanya barang
              yang real, tetapi juga yang tidak real, di mana hal ini saling terjalin dalam
              proses komodifi kasi produksi kesan dan citra yang bertumpuk-tumpuk
              dalam sebuah simulacrum. Marx menyatakan bahwa tahap perkembangan
              masyarakat ditentukan dan sesuai dengan modes of production, tetapi menurut
              Baudrillard dalam masyarakat postmodern perkembangan masyarakat
              sesungguhnya ditentukan oleh modes of representation (lihat: Gottdiener (ed.),
              2000: 18).
                    Berbeda dengan asumsi Mazhab Frankfurt dan Teori Postmodernisme
              yang meyakini bahwa khalayak dan konsumen pada dasarnya adalah
              massa konsumen yang pasif, cenderung terperangkap pada upaya-upaya
              manipulatif media populer, terbuka pada eksploitasi dan pengaruh proses
   198   199   200   201   202   203   204   205   206   207   208