Page 200 - index
P. 200
188 Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme
mengenali ketidakadilan sejati kapitalisme. Namun, mereka beranggapan
bahwa masyarakat tidak dapat lagi menunda pembebasan sampai
kehidupan setelah mati dan mengabaikan kepuasan duniawi. Manusia
harus menyediakan tempat bagi kebahagiaan individu, baik yang bersifat
okupasional maupun rekreasional. Ideologi harus menjanjikan relaksasi
manusia yang berada di bawah banyak tekanan yang menguasai kehidupan
personal dan publik mereka. Ideologi harus memberikan kemungkinan
kepada mereka dalam mengalami desublimasi (Agger, 2003: 251). Dalam
konteks ini, tumbuhnya produk-produk industri budaya, seperti bacaan
fi ksi populer yang kemudian diikuti dengan penayangan fi lm-fi lm Hollywood
yang sangat memikat, atau perkembangan pesat komik grafi s Manga yang
didukung produksi fi lm animasi, bukan saja dipandang sebagai jawaban
untuk memenuhi hasrat masyarakat konsumer, tetapi juga dikembangkan
kekuatan kapitalisme sebagai sebuah kenicayaan selera dan tuntutan gaya
hidup yang tidak terelakkan. Dalam masyarakat konsumer, yang namanya
konsumen memang dengan mudah termanipulasi oleh iklan dan tekanan
budaya konsumer yang menjadikan mereka cenderung patuh dan mudah
terperangkap dalam dunia fantasi yang diciptakan, sehingga tanpa sadar
konsumen tersebut seolah merasakan dan telah memperoleh sesuatu materi
yang sangat berarti bagi ekspresi diri secara personal (lihat: Gottdiener (ed.),
2000: 15).
Kendati tidak selalu eksplisit, tetapi teori Marxisme, Feminisme,
Strukturalisme, Mazhab Frankfurt, dan juga Teori Postmodern umumnya
sepakat memandang bahwa kekuatan kapitalisme, beserta produk-produk
budaya populer yang mereka hasilnya dinilai cenderung mengeksploitasi
dan menghegemoni manusia, dan karena itu harus dilawan dan dibongkar
secara radikal. Sebagai induk teori-teori Neo-Marxis dan berbagai
turunannya, harus diakui pikiran dan asumsi dasar serta cara berpikir Karl
Marx masih banyak mewarnai berbagai kajian tentang kapitalisme, paling-
tidak pada penggunaan konsep-konsepnya.
Menurut Storey (2007), dua pengaruh penting dari pengaruh Marxisme
terhadap kajian budaya dan Cultural Studies adalah. Pertama, untuk
memahami kebudayaan kita harus menganalisisinya dalam hubungannya
dengan struktur sosial dan perkembangan sejarah. Meskipun setiap
penggalan sejarah didominasi oleh struktur tertentu, namun kebudayaan

