Page 199 - index
P. 199
Upaya Pengembangan Perilaku Gemar Membaca dari Perspektif Cultural Studies 187
pemberontakan atau pembangkangan terhadap aturan sosial umum?
Apakah budaya populer ini mengekspresikan perlawanan terhadap mereka
yang berkuasa, dengan cara yang betapa pun tak terasa, halus dan belum
berkembang, dan merupakan subversi cara-cara berpikir dan bertindak
yang dominan?
Studi yang dilakukan ini, jika dikelompokkan termasuk dalam tema
kedua dari pembagian yang dilakukan Strinati di atas. Namun demikian,
dari data yang diperoleh dari lapangan, yang dikembangkan lebih lanjut
dari studi sebagaimana dilaporkan adalah memahami perilaku --dalam hal
ini perilaku membaca untuk kesenangan di kalangan remaja urban— bukan
semata-mata hasil konstruksi atau bentukan kekuatan kapitalisme melalui
produk-produk budaya dan proses hegemoni kultural yang dikembangkan
dengan dukungan iklan atau budaya massa, melainkan selera dan cita rasa
remaja urban terhadap bacaan ternyata adalah hasil dari proses dialektika
dan dialog antara hasrat dan kebutuhan: sebuah pilihan yang tidak selalu
harus mengacu pada daya tarik budaya populer, karena sebagai mahluk
sosial yang namanya remaja urban ternyata juga memiliki kebebasan, selera
dan cita rasa, serta pertimbangannya sendiri yang sifatnya personal.
Dalam berbagai kajian yang menjadi cikal-bakal Cultural Studies, yang
disebut audiens, seperti penonton fi lm atau pembaca, memang seringkali
digambarkan sebagai khalayak yang cenderung mudah dimanipulasi dan
dipasifkan serta rentan terhadap daya tarik ideologi iklan dan konsumerisme.
Pandangan seperti ini dapat dijumpai dalam berbagai varian teori Marxis,
Feminisme, Strukturalis maupun aliran Postmodern (Strinati, 2007: 42).
Budaya massa, dalam masyarakat modern diyakini memainkan peran penting
sebagai salah satu sumber pengganti atau alternatif tentang moralitas dan
acuan hidup, sehingga dalam kehidupan sehari-hari individu-individu pada
masyarakat modern, cenderung rentan terhadap manipulasi dan eksploitasi
lembaga-lembaga utama, seperti media massa dan budaya populer (Strinati,
2007: 8).
Teoritisasi budaya Marxis, misalnya umumnya memperlakukan
budaya populer, seperti televisi, iklan atau bacaan termasuk dalam
wilayah ekonomis dan ideologis, yang melibatkan kesadaran, wacana dan
konsumsi. Mereka setuju dengan Marx bahwa kapitalisme memerlukan
ideologi dalam menciptakan kesadaran palsu, sehingga orang tidak dapat

