Page 202 - index
P. 202
190 Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme
budaya populer yang diproduksi dan dikemas untuk pasar massal, dengan
cara memanipulasi kesadaran konsumen agar mereka dengan suka-rela
terus berhasrat untuk membeli atau mengkonsumsi barang terlepas dari
persoalan apakah barang itu memang dibutuhkan atau sekadar karena
didorong hasrat yang dikonstruksi oleh kekuatan kapitalisme.
Theodor W. Adorno (1945) dari Mazhab Frankfurt, mengemukakan
beberapa aksioma penting yang menandai perkembangan masyarakat
komoditas (commodity society) di mana di dalamnya perkembangan
kebudayaan pop mencapai puncak dominasinya (lihat: Ibrahim (ed.),
2004). Pertama, kita hidup dalam masyarakat komoditas, yakni masyarakat
yang di dalamnya berlangsung produksi barang-barang bukan terutama
bagi pemuasan keinginan dan kebutuhan manusia, tapi demi profi t atau
keuntungan. Dalam pandangan Adorno, di dalam masyarakat komoditas,
kebutuhan manusia terpuaskan hanya secara insidental. Kedua, dalam
masyarakat komoditas muncul kecenderungan umum ke arah konsentrasi
kapital yang luar biasa, yang memungkinkan terselubungnya operasi pasar
bebas demi keuntungan produksi massa yang dimonopoli dari barang-
barang yang terstandarisasi. Kecenderungan ini, menurut Adorno, akan
benar-benar terjadi, teristimewa terhadap industri komunikasi. Ketiga, hal
yang lebih sulit dihadapi masyarakat kontemporer adalah meningkatnya
tuntutan terus-menerus, sebagai kecenderungan umum dari kelompok yang
lebih kuat untuk memelihara, melalui semua sarana yang tersedia, kondisi-
kondisi dari relasi kekuasaan dan kekayaan yang ada dalam menghadapi
ancaman-ancaman yang sebenarnya mereka semai sendiri. Keempat, karena
dalam masyarakat kita kekuatan-kekuatan produksi sudah sangat maju, dan
pada saat yang sama hubungan-hubungan produksi terus membelenggu
kekuatan-kekuatan produksi yang ada, hal ini membuat masyarakat
komoditas sarat dengan antagonisme (full of antagonism), baik di wilayah
ekonomi maupun di wilayah budaya.
Budaya populer sendiri, menurut pandangan Mazhab Frankfurt
kendati selama ini telah menjadi mode ideologi kapitalis akhir yang tidak
menawarkan doktrin yang terbantahkan atau tesis tentang keniscayaan
dan rasionalitas masyarakat kini, namun di mata para pendukung Mazhab
Franfurt keberadaan dan kehadiran budaya populer itu, seperti fi lm, fashion,
musik, bacaan, dan lain-lain ternyata hanya menyediakan narkotika jangka

