Page 207 - index
P. 207
Upaya Pengembangan Perilaku Gemar Membaca dari Perspektif Cultural Studies 195
ka pulang ke rumah tiba-tiba menjadi antusias untuk membeli dan mem-
baca novel-novel legenda yang berkaitan dengan sejarah kekaisaran China.
Demikian pula, remaja yang mungkin suatu saat pernah berlibur ke Jepang,
ketika pulang ia menjadi tertarik untuk membaca hal-hal yang berkaitan
dengan tradisi dan kehidupan masyarakat Jepang, seperti buku mengenai
Yakuza, gengter terkenal asal Jepang yang kekejamannya sudah tersohor ke
berbagai belahan dunia.
Apa yang ditemukan dalam studi ini tampaknya lebih tepat
dijelaskan dengan konsep dan analisis Frazer (1987) dan Chris Barker
(2004) tentang “kontrak” antara pembaca dan teks, yang didasarkan pada
dialog antara keduanya. Sebuah kontrak melibatkan suatu kesepahaman
bahwa sebuah teks akan berbicara kepada kita dengan cara-cara yang kita
ketahui. Kesepahaman ini akan masuk ke dalam sebuah dialog bersama
kita. Dan, dialog itu, dengan unsur-unsur maupun bentuknya yang dapat
diandalkan, akan berhubungan dengan sebagian aspek kehidupan kita di
dalam masyarakat. Barker menyatakan: (1) bahwa media hanya sanggup
memaksakan kekuasaan atas khalayak sampai pada tataran tidak ada
sebuah “kontrak” antara teks dan khalayak, yang mengkaitkan dengan
sejumlah aspek khusus kehidupan sosial khalayak; dan (2) kekuasaan dan
arah pengaruh tersebut merupakan salah satu fungsi ciri-ciri kehidupan
khalayak yang dilembagakan secara sosial, dan muncul dari pemenuhan
kontrak tersebut; (3) oleh karena itu kekuatan ideologi (terutama industri
budaya) tidaklah bersifat tunggal, melainkan benar-benar bervariasi –sesuai
dengan sifat kontrak tersebut. Barker menyatakan, jika semua komik, media
dan (bacaan lain) melibatkan dialog antara teks dan pembacanya, maka
mnengkaji satu pihak tanpa melakukannya pada pihak yang lain sama
halnya seperti mendengarkan satu sisi sebuah percakapan telepon tanpa
memperhatikan soal peranan orang itu (lihat: Strinati, 2007: 290-291).
Dengan kata lain, apa yang dinyatakan Barker di atas sebetulnya
mencoba menggarisbawahi bahwa apa yang disebut produk-produk budaya
dan kekuatan ideologi kapitalisme pada dasarnya tidak selalu bersifat
tunggal, melainkan benar-benar bervariasi, sehingga kita harus memahami
ideologi dominan sekali pun sebagai sesuatu yang sifatnya dialogis.
Gagasan Chris Barker tentang kontrak antara pembaca dan teks ini, dengan

