Page 211 - index
P. 211
Upaya Pengembangan Perilaku Gemar Membaca dari Perspektif Cultural Studies 199
remaja—, yang penting adalah bagaimana memanfaatkan hal-hal yang
digemari remaja bukan sebagai lawan atau hal yang dinilai jelek daripada
kegiatan membaca. Kegemaran anak-anak menonton fi lm seri di televisi,
misalnya, tidak mustahil dijadikan media promosi bagi pustakawan untuk
memancing gairah awal anak mengenal dan kemudian gemar membaca
buku. Demikian pula, kegemaran remaja memanfaatkan waktu luang untuk
membaca buku-buku non-pendidikan, tidak harus pagi-pagi divonis hanya
membuang-buang waktu dan kontra-produktif bagi kegiatan belajar di
sekolah.
Tabel 6.2 Implikasi Praktis dan Program yang Direkomendasikan
Implikasi Praktis Program yang Direkomendasikan
Membangun konstruksi bahwa • Pemilihan siswa idola yang sifatnya
mem baca memiliki fungsi atau ni- populer (misal: pemberian penghargaan
lai pakai kedua (ersatz) “Kutu Buku Award” bagi siswa yang ge-
mar membaca).
• Pengembangan kelompok diskusi buku
di sekolah yang te ngah populer di mata
siswa.
• Pengembangan program reading corner
atau pojok baca bagi siswa dengan kolek-
si bacaan, dekorasi dan suasana yang
khas remaja urban.
• Kerjasama guru dan pustakawan sekolah
untuk mengembangkan program “mem-
baca yang me nyenangkan” dan “per-
pustakaan yang ramah siswa”.
Memanfaatkan aktivitas membaca • Pengembangan program jam khusus
untuk kesenangan sebagai pintu membaca untuk ke senangan di sekolah.
masuk pengembangan aktivitas • Pengadaan bacaan populer di per-
membaca untuk kepentingan aka- pustakaan sekolah yang up to date.
demik • Pemberian tugas resensi bacaan populer
bagi siswa.
Secara teoritis, satu hal yang mesti disadari: agar siswa termotivasi
untuk menyukai, memiliki dan membaca buku, maka faktor utama adalah
rasa senang. Apa yang disenangi remaja biasanya akan dilakukan dengan
baik. Pada umumnya, rasa senang akan berkurang, atau bahkan dapat

