Page 208 - index
P. 208
196 Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme
demikian–menurut Strinati (2007) harus diakui sebagai sebuah cara yang
bermanfaat untuk memahami hubungan antara khalayak dengan budaya
populer. Gagasan ini tidak menghapus semua pengaruh kekuatan industri
budaya dan ideologi kapitalisme itu sebagai sebuah candu kultural, tetapi
juga tidak tenggelam ke dalam suatu perayaan kebebasan bagi konsumen,
dalam hal ini pembaca, untuk memilih budaya dan jenis bacaan apapun
yang mereka inginkan.
Memahami perkembangan gaya hidup dan budaya populer tidaklah
cukup hanya dengan logika berpikir yang melihat bahwa perilaku orang,
termasuk perilaku membaca untuk kesenangan sebagai sesuatu aktivitas
sosial yang muncul semata karena pembebanan dan hasil dari pengendalian
kekuatan kapitalisme, karena soal cita rasa dan selera bagaimana pun
adalah bagian dari ekspresi masyarakat yang sifatnya terbuka: bahwa di
sana kedaulatan konsumen dalam batas-batas tertentu diakui eksistensinya.
Memahami perilaku membaca remaja urban semata bersifat pasif dan hasil
konstruksi kekuatan industri budaya, bukan saja menafi kan eksistensi
manusia yang memiliki independensi, tetapi juga mengkhiati perjuangan
dan asumsi dasar dari cara berpikir Cultural Studies yang sejak awal ingin
menolak keseragaman dan hegemoni.
Industri budaya, memang di satu sisi selalu berusaha untuk meng-
inkorporasi audiens sebagai komoditi konsumen, sementara audiens selalu
meng-ekskorporasi teks untuk tujuannya sendiri (Storey, 2007: 283).
Budaya pop sendiri, menurut Storey senantiasa terlibat dalam perjuangan
antara penyeragaman (homogenisasi) dan keragaman (heterogenisasi),
atau antara konsensus dan konfl ik. Dalam hal ini, budaya populer laiknya
sebuah lapangan perang semiotik antara sarana inkorporasi dan sarana
resistensi, antara perangkat makna, kesenangan dan identitas sosial yang
diberlakukan dengan yang sudah ada. Ia merupakan hubungan konfl ik
sarana penyeragaman yang selalu menemui resistensi keragaman.
6.3 IMPLIKASI PRAKTIS
Studi dalam ilmu sosial, apapun tema dan masalah yang dikaji,
sebetulnya dituntut tidak hanya mampu memberikan sumbangan konseptual
dan implikasi teoritik bagi perkembangan teori-teori yang sudah ada, tetapi

