Page 107 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 107
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
kelembagaan sebagai ukuran pengambilan kebijakan. Jadi, wacana ideologi
perlu menjadi sandingan di kalangan pustakawan dalam menjalankan kerja
profesionalnya.
Kata Kunci: ideologi, kontestasi, pengembangan koleksi, political economy,
komodifikasi, Muhammadiyah.
I. PENDAHULUAN
Pengembangan koleksi perpustakaan di kalangan pustakawan
merupakan salah satu tugas profesional. Para pustakawan menganggap
bahwa semua jenis koleksi yang dimiliki perpustakaan semestinya diperoleh
melalui pertimbangan profesional, berbasis kebutuhan pemustaka,
imparsial, dan terbuka untuk semua kelompok gender, pemikiran, ras,
keagamaan, dan sebagainya (Evans, 2000; Johnson, 2018). Gagasan
ini sejalan dengan pemahaman bahwa perpustakaan sebagai lembaga
preservasi informasi dituntut untuk mengakomodir seluruh jenis informasi
agar tersalur secara baik, dapat diakses semua pihak dan semua pihak
dapat mengakses semua jenis informasi (IFLA; Zerek, 2014). Namun,
pemahaman tersebut terkesan sangat positivistik serta mengabaikan aspek
sosial dan konstruksinya dalam interaksi masyarakat yang potensial dengan
konstruktivistik. Artinya, banyak fenomena terjadi tidak berasal dari proses
sebab akibat, tetapi proses zig-zag dan konstruktivis. Di antaranya, suatu
fenomena terjadi disebabkan karena fenomena ideologis, komodifikasi,
dan kepentingan lainnya, sehingga pengamatan peneliti penting melihat
sisi lain di balik dari peristiwa linear yang selama ini dikenal bersifat pasti
dan berkesinambungan.
Fenomena konstruktivistik ini dapat dilihat dalam berbagai
perpustakaan, khususnya perpustakaan UMY. Oleh karena itu, pendekatan
penelitian yang berparadigma konstruktivistik penting digunakan untuk
melihat secara holistik variasi fenomena perpustakaan. Pentingnya
pendekatan nonpositivistik bukan hanya karena mampu melihat peristiwa
empirisisme sosial, melainkan juga lebih kritis sekaligus persoalan
perpustakaan dapat dipahami berbasis multiperspektif. Melalui pendekatan
tersebut, penelitian ini menemukan sejumlah persoalan, di antaranya, tentang
adanya kontestasi ideologis dalam pengembangan koleksi perpustakaan
UMY sekaligus kaitan komodifikasinya dalam mendapatkan nilai tambah
bagi ideologi kontestan. Pada titik ini, kontestasi ideologis dapat dilihat
dalam tiga formasi, yang meliputi kelembagaan internal, kelembagaan
eksternal, dan profesionalisasi pustakawan, yang ketiganya berhadapan
dalam memengaruhi proses pengembangan koleksi perpustakaan UMY.
Untuk membaca persoalan di atas, teori sosial kritis Anthony Giddens
Nurdin 87

