Page 111 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 111
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
Selanjutnya, koleksi hadir di tengah tugas pengembangan koleksi yang juga
tidak bersifat automatis, tetapi produk tugas ini juga dipengaruhi berbagai
kepentingan, ideologis, politis, dan termasuk profesionalisme (Bourdieu, 1986,
1991, 1998). Individu-individu yang terlibat dalam tim pengembangan tidak
seragam. Pendidikan, budaya, kearifan, dan bahkan ideologi serta politik adalah
semuanya tidak berjalan sama karena berangkat dari hakikat yang berbeda. Atas
dasar kenyataan tersebut, kehadiran perpustakaan penuh dengan dinamika yang
konstruksinya terdiri atas bangunan elemen-elemen kebudayaan, khususnya
akal budi yang inheren pada setiap aktor (Barker, 2000). Pada titik ini, koleksi
sebagai produksi kebudayaan menjadi artefact ideologis dan politis (Margolis
& Laurence, 2007; Althusser, 2014) yang dapat menjadi pijakan dalam menata
kelola perpustakaan, khususnya perpustakaan UMY.
D. Contested ideologies in the collection development of libraries.
Pengembangan koleksi merupakan bagian yang terdiri atas sejumlah
orang yang bekerja atas nama sesuatu yang ditentukan oleh sejumlah
orang yang juga berbeda dalam sejumlah pemikiran, gagasan, dan bahkan
ideologi ataupun haluan politik. Perbedaan yang melingkupi ranah praktik
sosial, komunal kelembagaan dan kepentingan, hidup dalam sebuah
interaksi sosial yang terbentuk dalam sebuah habitus atau strukturasi.
Habitus dalam pandangan Bourdieu (Grenfell, 2010) dianggap sebagai
sebuah struktur ‘yang distrukturkan dan menstrukturkan’. Struktur tersebut
distrukturkan oleh lingkungan masa lalu dan masa sekarang, sementara
menstrukturkan adalah bahwa habitus seseorang membantu membentuk
praktik masa kini dan masa depannya. Dikatakan struktur adalah karena
ia secara sistematis ditata bukan secara acak atau tanpa pola. Struktur ini
meliputi suatu sistem disposisi yang menghasilkan persepsi, apresiasi,
dan praktik. Habitus berfungsi sebagai basis dialektika antara struktur
dan agensi yang bertujuan untuk memahami suatu masyarakat melalui
pembongkaran relasi kuasa yang tersebar-terselubung di antara struktur
dan agensi (Harker, 2005).
Sementara, Giddens (1984) mengajukan konsep lain, namun gagasan
utamanya sejalan, yaitu upaya mengatasi persoalan dikotomis antara struktur
dan agensi. Ia menganggap bahwa konsep struktural-fungsional terjebak pada
pandangan naturalistik yang mereduksi peran aktor dalam struktur, yang
akhirnya sejarah dipandang secara mekanis, bukan suatu produk kontengensi
dari aktivitas agensi. Juga, tidak sepaham dengan konstruksionisme-
fenomenologis yang dianggapnya telah jatuh pada imperialisme subjek. Ia
berupaya mendamaikan kedua konsep tersebut melalui konsep strukturasi
yang menyetarakan peran struktur dan agensi dalam proses terjadinya
reproduksi sistem sosial. Jadi, setiap tindakan sosial terjadi melalui sebuah
Nurdin 91

