Page 108 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 108

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

            (1984) ataupun praktik sosial dari habitus Bourdieu (1986, 1991, 1996)
            menjadi  penting  dalam  memahami  kontestasi  ideologi  pengembangan
            koleksi.  Strukturasi  dari  Giddens  membantu  untuk  melihat  bagaimana
            dialektika antara struktur dan agensi berhadapan satu sama lainnya dalam
            pengembangan  koleksi  perpustakaan  UMY.  Sedangkan,  habitus  dari
            Bourdieu  membantu  melihat  praktik  sosial  terjadi  secara  dinamis  yang
            didukung  oleh  ragam  modal  dan  aturan  sehingga  antara  struktur  dan
            aktor saling memengaruhi  dalam menciptakan  sebuah habitus. Artinya,
            habitus seseorang terbentuk melalui proses disposisi atau berupa produk
            sejarah yang menghasilkan praktik perilaku individu atau kolektif. Habitus
            seseorang terbentuk tidak lain dari adanya hubungan antara aktor sendiri
            dengan kondisi sosial yang melingkupinya. Kontestasi ideologi tersebut
            tidak saja terkerangka dalam tiga formasi di atas, tetapi juga melahirkan
            implikasi komodifikasi kelembagaan dan khalayak.

                                II. TINJAUAN LITERATUR

            A. Ideology as a legitimate tool of interests

                Terry  Eagleton  (1991)  menyatakan  bahwa  ideologi  memiliki
            pengertian beragam yang tidak dapat disatukan karena formulasi ideologi
            tidak semuanya relevan satu dengan lainnya. Formulasi ideologi tersebut
            di antaranya ada yang bersifat pejoratif, sedangkan lainnya tidak. Sejalan
            dengan  pertanyaan  inherennya,  ada  yang  bersifat  epistemologis  dan
            lainnya  tidak.  Akibat  dinamisasinya  berpotensi  menjadi alat  legitimasi
            kepentingan. Stuart Hall dalam Storey (1993) mengajukan lima definisi.
            Pertama, ideologi mengacu pada suatu kumpulan ide yang diartikulasikan
            kelompok tertentu, seperti ideologi partai politik dan kelompok profesional.
            Kedua, ideologi dianggap sebagai suatu kedok distorsif. Ideologi dipakai
            untuk melihat bagaimana teks dan praktik budaya menyajikan citra realitas
            yang terdistorsi dan kesadaran palsu. Definisi ketiga mengacu pada citra
            dunia tertentu yang tergantung pada gagasan masyarakat yang lebih bersifat
            konflik ketimbang konsensus. Keempat, ideologi bukan sekumpulan ide
            yang sederhana, melainkan sebagai praktik material kehidupan sehari-hari
            yang meliputi ritual dan adat istiadat tertentu yang memiliki pengaruh yang
            mengikat  pada suatu tatanan  sosial.  Terakhir, ideologi  beroperasi  pada
            level konotasi yang, oleh Roland Barthes (1981), disebut sebagai mitos,
            yaitu mengacu pada perjuangan hegemoni untuk membatasi konotasi dan
            menentukan konotasi tertentu atau menghasilkan konotasi baru.
                Ideologi  juga  dipahami  sebagai  ‘wacana’  yang  terikat  dengan
            kepentingan sosial tertentu, yang juga tidak lepas dari masalah. Oleh karena
            itu,  harus  dipastikan  bahwa  kepentingan  sosial  yang  dimaksudkannya

            88                             Contested Ideologis in Collection Development ...
   103   104   105   106   107   108   109   110   111   112   113