Page 115 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 115

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

            wacana  ekonomi  politik  dan  ideologi.  Perpustakaan  sebagai  lembaga
            sirkulasi informasi berfungsi sebagai wahana interaksi berbagai aktor dan
            praktik-praktik sosial yang membuka kesempatan kepada mereka untuk
            memainkan kepentingan  masing-masing.  Permainan  kepentingan  terjadi
            dalam berbagai hal, terutama dalam ideologi dan upaya penyebarannya
            berbasis  ideologi  masing-masing aktor. Penyebaran  ideologi  dilakukan
            dalam tata kelola koleksi yang meliputi dua level, yaitu wacana dan praktik.
            Level wacana bekerja pada penggiringan opini publik untuk memengaruhi
            pengguna  melalui  kelengkapan  koleksi  yang  disediakan  perpustakaan,
            sedangkan level praktik  dimaksudkan  sebagai  upaya memengaruhi
            pengguna  perpustakaan  melalui  interaksi  antarapengelola  perpustakaan
            atau antara pengelola dan pemustaka.
                Melalui proses  kedua level di atas, pengembangan  koleksi
            perpustakaan  UMY  menunjukkan  dua  bentuk  interaksi  sosial,  yaitu
            praktik ekonomi politik dan pembentukan ideologi, yang bekerja untuk
            memelihara  khitah  kelembagaan.  Praktik  ekonomi  politik  dilakukan
            dalam upaya memperoleh koleksi sesuai dengan kepentingan organisasi.
            Kerjasama dengan berbagai pihak, khususnya penerbit yang sesuai dengan
            khitah organisasi, dikembangkan melalui berbagai cara sebagaimana hasil
            wawancara dengan informan LAHS.
                “... kami memiliki berbagai cara, atau bahkan mungkin sebagai suatu
                pendekatan untuk memiliki koleksi yang dibutuhkan oleh pengguna
                kami... mungkin juga pendekatan itu ada yang dianggap tidak adil
                [tidak profesional] karena menutup kemungkinan untuk mengakses
                koleksi-koleksi tertentu, seperti buku-buku Syi’ah, atau paling tidak
                membatasi  akses terhadap  buku-buku tersebut, sebagaimana  ketika
                pimpinan  UMY  pada  tahun  2013  meminta  untuk  menutup  Iranian
                corner yang saat itu ada di UMY karena dianggap sebagai aliran sesat
                dalam Islam... buku-buku corner tersebut sebagian dikembalikan ke
                kedutaan Iran dan sebagian lainnya dipajang di rak mengikuti subjek
                Islam lainnya... (wawancara dilakukan pada tanggal 26 Juni 2019)”
                Hasil  wawancara  ini  menunjukkan  pembatasan  koleksi  oleh
            perpustakaan  UMY  terhadap  paham  yang  dianggap  berbeda  dengan
            garis  ideologi  lembaga  induknya,  Universitas  Muhammadiyah.  Seperti,
            pembubaran  Iranian  corner  tersebut  menegaskan  adanya  kontestasi
            ideologi  aktor dalam  pengelolaan  perpustakaan,  secara  khusus  dalam
            pengembangan  koleksi  perpustakaan  UMY.  Hasil  wawancara  ini
            menggambarkan  sejumlah  situasi,  di antaranya,  terkait  kenapa  corner
            terlarang  itu  bisa  berdiri  di  UMY  dan  pengklaiman  sebagai  lembaga
            yang memiliki paham yang sesat, dan bagaimana kebijakan perpustakaan


            Nurdin                                                         95
   110   111   112   113   114   115   116   117   118   119   120