Page 117 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 117

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

                kami mengambil pegangan berdasarkan visi organisasi... (wawancara
                dengan LANT, 26 Juni 2019)”
                Wawancara ini diperkuat oleh informan lainnya, seperti LAHS dan
            ARPW, yang menyatakan bahwa kebijakan perpustakaan UMY tidak bisa
            lepas dari visi Universitas Muhammadiyah. Visi keagamaan pendidikan
            Muhammadiyah  adalah  visi  mainstream  keislaman  di  Indonesia,  yaitu
            Ahlussunnah  wal  Jama’ah,  yang  berpegang  teguh  pada  al-Qur’an  dan
            Sunnah nabi Muhammad dengan karakter khas pembaharuan (Mulkhan,
            2010;  Asyari,  2009).  Kejelasan  visi  ini  memberikan  pegangan  kepada
            perpustakaan untuk dijadikan sebagai landasan dalam setiap pengambilan
            kebijakan, khususnya berkenaan dengan pengembangan koleksi. Setiap
            keputusan  yang diambil  perpustakaan  akan  selalu  mengacu  pada  visi
            keagamaan  Muhammadiyah tersebut untuk menciptakan program dan
            layanan  perpustakaan  UMY  yang  berkesinambungan.  Mengikuti  visi
            ideologis  kelembagaan  di atas adalah  kunci tata  kelola kelembagaan
            perpustakaan  yang  baik.  Artinya,  pengelola  memiliki  panduan  atau
            kebijakan organisasi untuk menjalankan amanah organisasi, yang dalam
            hal ini adalah perpustakaan UMY.
                Di samping itu, wawancara tersebut menggambarkan suatu interaksi
            kontestasi  antara  agen  dan  struktur  (Giddens,  1984;  Bourdieu,  1990).
            Agen adalah pengelola atau  pustakawan  yang  bertanggung  jawab  dalam
            pengelolaan  perpustakaan  UMY,  sedangkan,  struktur  meliputi  aturan  dan
            kebijakan kelembagaan yang mengacu kepada visi kemuhammadiyahan.
            Arah  visi  keagamaan  Muhammadiyah  jelas  tergambar dalam  aktivitas
            dakwahnya, sehingga pengelola  perpustakaan  terikat  oleh  kebijakan
            kelembagaan dalam pengembangan  koleksi  perpustakaan  UMY. Artinya,
            setiap  kebijakan,  baik  tertulis  maupun  lisan  harus  diakomodir  atau
            dilaksanakan secara utuh dan komprehensif. Di sisi lain, para pustakawan
            merasa terbuka bahwa menurutnya pengembangan koleksi sebaiknya tidak
            dipermainkan oleh aspek ideologis atau primordialisme lokal. Kebutuhan
            pemustaka itulah kunci yang menjadi pedoman dalam setiap pengembangn
            koleksi.  Data  tersebut  menegaskan  adanya  pertarungan  antara  struktur
            dan  agensi dalam pengembangan koleksi di  perpustakaan.  Keterbukaan-
            profesional seorang pustakawan memiliki keterbatasan dalam mengahadapi
            struktur  yang  mengikat.  Namun,  sebagai  seorang  profesional,  pengelola
            perpustakaan memiliki sifat profesional, sehingga berbagai strategi dilakukan
            untuk membuka akses kepada pemustaka. Sejalan dengan komentar yang
            diperoleh dari informan SAFD diperkuat oleh SUSB dan LANT berikut.
                “... kami  menyadari  bahwa pengembangan  koleksi memang  tidak
                semuanya dapat memenuhi kebutuhan pemustaka yang begitu banyak,


            Nurdin                                                         97
   112   113   114   115   116   117   118   119   120   121   122