Page 121 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 121
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
untuk menyajikan atau melakukan pementasan budaya lokal, dengan
melibatkan budayawan lokal, dan penggiat budaya lokal di sisi lain. Ini
akan mengarahkan pikiran masyarakat khalayak bahwa budaya America
adalah budaya yang memberikan tempat bagi setiap budaya dan poinya
akan dibawa oleh khalayak serta terwujudnya nilai tambah bagi pihak
pemilik Amcor. Artinya, pengakuan publik terhadap budaya America
sebagai budaya egalitarian sudah terwujud. Nilai tambah lainnya, ternyata
mahasiswa lebih senang juga bekerja di Amcor dengan tujuan mengejar
beasiswa, sekaligus memperbaiki bahasa Inggris mereka dan sebagai
meeting point.
V. KESIMPULAN
Pengembangan koleksi di perpustakaan UMY ditemukan bahwa
pengelolaannya tidak semata-mata terjadi oleh tata kelola profesional,
yang didorong oleh kebutuhan pemustaka secara umum dan terbuka,
tetapi juga oleh wacana kontestasi ideologis dan komodifikasi. Kontestasi
ideologis terjadi dalam tiga formasi, yaitu internal kelembagaan, eksternal
kelembagaan, dan professional librarians, yang ketiganya terhubung dalam
suatu link struktur dan agensi (Giddens, 1984) ataupun dalam bingkai
habitus (Bourdieu, 1990). Kelembagaan internal yang diwakili formasi
ideologi keagamaan Muhammadiyah yang berorientasi pada ideologi al-
Qur’an dan Sunnah yang berkarakter pembaharuan berhadapan dengan
ideologi keagamaan lainnya, seperti gerakan kelompok Syi’ah yang
diwakili Iranian Corner dan gerakan liberal yang diwakili American
Corner, serta lainnya. Interaksi sekaligus kontestasi ideologis ketiga pihak
ini saling berhadapan sebagai struktur yang saling memengaruhi dalam
pengembangan koleksi perpustakaan. Bentuk kontestasi tersebut dapat
dilihat sebagai wujud utama kontestasi ideologis dalam pengembangan
koleksi perpustakaan UMY.
Interaksi ideologis kedua berupa kontestasi antara struktur dan agensi.
Struktur dimainkan oleh elemen kelembagaan, yakni perpustakaan UMY
sebagai lembaga yang memiliki aturan atau kebijakan-kebijakan yang
menjadi panduan bagi para aktor perpustakaan. Aktor dimainkan oleh para
pustakawan, pengelola perpustakaan, yang bersifat kritis dan profesional.
Namun, ditemukan bahwa profesionalitas pustakawan tersandera oleh
kuasa ideologi kelembagaan. Akan tetapi, pustakawan memiliki berbagai
Nurdin 101

