Page 211 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 211
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
yang pada dasarnya pemberian jasa yang non profit pada pemustaka di
sebuah perpustakaan, ternyata dapat menjadi kajian ekonomi politik yang
melibatkan berbagai kepentingan para agen pengelola. Konsep Mosco
dapat diimplementasikan sebagai satu kajian perpustakaan. Ini dikarenakan
layanan referensi juga merupakan sebuah media yang menjadi jembatan
komunikasi antara pemustaka dan informasi.
Kepala Perpustakaan juga menggunakan Perpustakaan sebagai
panggung berbagai kegiatan untuk meningkatkan eksistensinya. Orang-
orang yang diundang atau yang ‘menawarkan diri’ sebagai nara sumber
dijadikan sebagai komoditas oleh kepala perpustakaan sebagai alat untuk
eksistensi diri kepada otoritas universitas. Semua kepentingan itu memang
pada ujungnya juga akan meningkatkan perhatian otoritas universitas
terhadap perkembangan Perpustakaan.
Program kegiatan Perpustakaan juga menjadi modal bagi kepala
perpustakaan untuk membina relasi yang lebih luas dengan kalangan
petinggi atau pengambil kebijakan baik di lingkungan universitas mapun
kalangan yang lebih luas. Jelas, sebagai kepala Perpustakaan mempunyai
relasi kuasa yang dominan dalam memainkan peran perpustakaan dengan
melakukan berbagai program dan kegiatan baik yang melibatkan kepala
perpustakaan sebagai nara sumber maupun tidak.
Spasialisasi dalam perpustakaan erat terkait dengan sejauh mana
perpustakaan mampu menyajikan produknya pada khalayak targetnya
dalam batasan ruang dan waktu. Dalam hal ini perpustakaan menentukan
perannya dalam memenuhi jaringan dan kecepatan penyampaian produk
budaya ke khalayak. Pustakawan referensi menjalin relasi dengan
pemustaka terutama para guru besar dalam interaksi yang lebih cair. Tidak
perlunya tatap muka langsung memudahkan pustakawan untuk berinteraksi
dengan guru besar. Kekakuan, jarak sosial, perilaku dan keengganan yang
biasanya dialami pustakawan teratasi dengan praktik spasialiasi. Bahkan
pustakawan referensi juga memanfaatkan jaringan atau network yang
terbangun dengan pemustaka. Kedekatan relasi yang terjalin menjadikan
pemustaka sebagai pangsa dari transaksi bisnis online pustakawan.
Layanan referensi Perpustakaan UI dijadikan tempat untuk
menunjukkan kinerja terbaik para agen yang terlibat didalamnya. Kinerja
terbaik yang dimaksud dalam penelitian ini adalah cara para agen dalam
hal ini pustakawan bagian referensi, menunjukkan atau memperlihatkan
kapabilitas, keahlian, kecakapan, kemahiran, kepandaian, kepiawaian,
keterampilan dan kompetensi kepada pihak atau khalayak yang
ditargetkannya. Kinerja terbaik ini dilakukan terkait dengan layanan
referensi oleh para agen yakni Kepala Perpustakaan, Koordinator Layanan,
dan Staf Layanan Referensi di Perpustakaan.
Indira Irawati 191

