Page 207 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 207
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
strategi penelusuran agar menemukan informasi berbasis digital yang sesuai
dengan kebutuhannya. Sedangkan pustakawan harus mampu menemukan
informasi yang diminta oleh pemustakanya serta melatih pemustaka
mengenai strategi penelusuran informasi berbasis digital.
Perpustakaan UI mengalami proses dinamis dalam hampir setiap aktivitas
pengelolaannya. Proses penyusunan kebijakan pengembangan koleksi,
proses seleksi bahan perpustakaan sampai dengan layanannya terdapat suatu
proses politis dan ekonomis. Atas dasar inilah, pendekatan ekonomi politik
dalam kajian perpustakaan menjadi penting untuk membaca kemungkinan
keterlibatan berbagai kekuatan kelompok pada proses pengelolaannya.
Mosco (2009) menawarkan tiga konsep untuk mengaplikasikan
teori ekonomi politik dalam kajian komunikasi. Konsep pertama adalah
komodifikasi. Komodifikasi merupakan proses mengubah barang dan jasa
yang bernilai guna menjadi barang dan jasa yang bernilai jual. Hal ini dapat
dilihat, misalnya di perpustakaan UI, dalam proses mengubah puluhan ribu
karya ilmiah sivitas akademika UI seperti skripsi, tesis dan disertasi serta
laporan penelitian yang dapat diakses melalui sistem aplikasi Perpustakaan
UI “LONTAR”, menjadi sumber informasi yang memiliki nilai jual. Jika
pada umumnya produk digital yang dapat diperjula-belikan secara online,
dalam kasus Perpustakaan UI, justru produk tercetaknya menjadi komoditas
yang dikomodifikasikan pada khalayak non sivitas akademik UI. Meski sejak
tahun 2017 kebijakan ini tidak diterapkan lagi, namun sebelumnya pemustaka
perpustakaan non sivitas akademika UI diperkenankan memfotokopi skripsi,
tesis atau disertasi dengan biaya Rp 1.000,- - Rp 1.500,-/lembar. Saat ini
kebijakan yang diterapkan adalah bahwa pemustaka perpustakaan dari
luar UI harus membayar uang masuk Perpustakaan UI sebesar Rp 5.000,-/
hari, dan sebagian besar pemustaka tersebut melakukan akses skripsi, tesis,
disertasi dan karya svitas akademika UI, baik yang tercetak maupun digital.
Proses transformasi dari nilai guna menjadi nilai jual dalam
perpustakaan, selalu melibatkan pengelola perpustakaan, khalayak
yang memanfaatkan perpustakaan yaitu pemustaka, dan para pengambil
keputusan, yang masing-masing memiliki kepentingan.
Internet mengatasi jarak dengan memungkinkan pemustaka
perpustakaan UI mengkases karya sivitas yang terkumpul dalam koleksi
UIANA tanpa harus mengunjungi perpustakaan. Spasialisasi dalam
perpustakaan erat terkait dengan sejauh mana perpustakaan mampu
menyajikan produknya pada khalayak targetnya dalam batasan ruang dan
waktu. Dalam hal ini perpustakaan menentukan perannya dalam memenuhi
jaringan dan kecepatan penyampaian produk budaya ke khalayak.
Spasialisasi membuat pustakawan referensi dapat berhubungan
yang lebih cair dengan para guru besar. Tidak perlunya tatap muka
Indira Irawati 187

