Page 205 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 205

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

            sebagian mahasiswa S3 bahkan rela memberikan imbal jasa atas layanan
            referensi yang diberikan.
                Bahkan, pustakawan juga mendapatkan keuntungan dalam relasinya
            dengan  pemustaka.  Pemustaka  dalam  interaksi  selanjutnya  menjalin
            pertemanan dalam media sosial facebook dengan pustakawan. Pemustaka
            akhirnya  menjadi  konsumen bisnis online  yang dilakukan  pustakawan.
            Setelah  merasakan  manfaat  layanan  referensi  yang  diberikan  oleh  para
            pustakawan, beberapa mahasiswa memberikan imbalan seperti makanan
            kecil bagi para  pustakawan,  atau  bahkan  dalam  ucapan  terima  kasih  di
            dalam disertasinya, mahasiswa menyebutkan  nama pustakawan yang telah
            membantunya sebagai pihak yang berjasa dalam penyelesaian tugas akhir.
                Implementasi spasialisasi Mosco membawa multi dampak bagi
            para  agen yang terlibat dalam kegiatan  perpustakaan.  Pustakawan  yang
            pada masa  perpustakaan  konvensional  mendominasi  pemustaka  dengan
            kompetensi  yang  dimiliki,  dengan  adanya  transformasi  layanan  referensi
            berubah menjadi sub ordinat. Melalui  kemajuan teknologi informasi dan
            komunikasi, jarak dan waktu bukan lagi hambatan dalam praktik ekonomi
            politik.
            2. Transformasi Peran Pustakawan Referensi
                Layanan  referensi  memerlukan  pustakawan-pustakawan  yang
            kompeten  di  bidangnya.  Kebijakan  pengembangan  layanan  yang  tidak
            melibatkan  pustakawan  dan  jumlah  pemustaka  yang  menggunakan
            layanan  referensi  yang  dianggap  belum  signifikan  menunjukkan  bahwa
            agen  pengelola  Perpustakaan  UI  yaitu  kordinator  layanan  dan  agen
            pustakawan mempunyai persepsi yang berbeda atas kondisi yang terjadi.
            Pustakawan merasa sudah terlalu sibuk dengan beban tugas dengan adanya
            layanan-layanan  baru  seperti  EDS.  Jumlah  pustakawan  referensi  yang
            melaksanakan layanan tersebut hanya tiga orang, tidak sebanding dengan
            jumlah guru besar di UI. Padahal, itupun baru sebagian kecil guru besar
            yang menggunakan layanan EDS.
                Perubahan dan perkembangan yang terjadi di Perpustakaan, pada akhirnya
            berujung pada sumber daya manusia yang mengelola, yakni pustakawan itu
            sendiri. Pustakawan di era digital dituntut untuk mengubah peran konvensional
            yang dilakoni selama ini. Peran-peran baru di era digital membutuhkan
            kemampuan menggunakan fasilitas teknologi infomasi dan komunikasi dengan
            baik. Sharp (2009) mengatakan seorang profesional di bidang informasi harus
            berubah dan beradaptasi dengan lingkungan informasi elektronik, harus belajar
            banyak perihal teknologi baru dan menyadari kekuatan dan kelemahannya.
            Transformasi pustakawan adalah perubahan sifat dan perilaku pustakawan ke
            arah yang lebih baik dengan mengikuti perkembangan zaman baik melalui


            Indira Irawati                                                185
   200   201   202   203   204   205   206   207   208   209   210