Page 328 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 328
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
Lalu mengapa bangunan ini penting untuk dikaji bagi generasi berikut?
Pertama, dari segi sejarah pendidikan era kolonial, sekolah Gymnasium
Koning Willem III (selanjutnya disebut K.W. III) merupakan lembaga
pendidikan menengah yang pertama kali didirikan oleh pemerintah kolonial
Hindia Belanda saat itu (Imrad Idris, 1992: p. 2) . Baru setelah 54 tahun,
pemerintah Hindia Belanda mendirikan 2 jenis sekolah menengah umum
Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) pada tahun 1914 dan 4 tahun
kemudian dibuka Algemene Middelbare School (AMS) yaitu pada tahun
1918, masing-masing dengan lama pendidikan tiga tahun. Sebenarnya 34
tahun setelah berdirinya H.B.S. K.W. III yaitu pada tahun 1894, pemerintah
Belanda sudah meresmikan pendidikan lanjutan yaitu sekolah kedokteraan
pertama “School tot Opleiding van Inlandsche Artsen” (S.T.O.V.I.A.) yang
pada mulanya disebut dengan Sekolah Dokter Jawa . Sekolah Dokter Jawa
ini sebenarnya pertama kali dibuka pada tahun 1851 dengan memilih
siswa-siswa yang belum tamat sekolah dasar . Dengan demikian terlihat
bahwa keberadaan sekolah K.W. III ini cenderung memberikan pengaruh
besar terhadap dibukanya pendidikan menengah dan sekolah lanjutan
berikutnya.
Kedua, dari segi sejarah pendidikan elit bumiputera, bangunan ini tidak
hanya penting dalam membuka kemajuan intelektual pendidikan masyarakat
Eropa berdarah Belanda namun juga masyarakat Bumiputera di masa itu.
Setelah 14 tahun dibuka, pada tahun 1874, cucu Pangeran Mangkunegara,
diterima sebagai siswa Indonesia pertama. Sekolah ini mempunyai andil
besar dalam mendidik dan membekali serta merintis pengembangan
daya pikir kritis dan jiwa merdeka para cikal-bakal pejuang-pejuang
kemerdekaan Indonesia yang bersekolah disini. Dalam sumber tertulis
disebutkan beberapa nama antara lain seperti Achmad Djajadiningrat,
Ahmad Soebardjo, Mohammad Ahmad (ayah Maria Oelfah Santoso), A.A.
Maramis, Mohammad Hoesni Thamrin, Douwes Dekker, Haji Agoes Salim,
Arnold Mononoetoe, Ali Sastroamidjojo, Johannes Latoeharhary, Soemitro
Djojohadikoesumo, Ali Sastroamidjojo, Achmad Astawinata, Soechjar
Tedjakoesoema, Soerachman Tjokrosoedardjo, R.A.A. Wiranatakoesoema,
Chairoel Saleh, Sjarif Tajeb, Haroen Zain, Harjati Soebadio, Maria Oelfah
Santoso. Sumber tertulis lain menyebutkan Dr. H. Mohammad Hatta, pada
usia 13 tahun sebenarnya sudah diterima di HBS KW III, namun karena
ibundanya menganggap beliau masih terlalu muda bersekolah di Batavia
dari Padang, maka baru setelah usia 17 tahun beliau pergi ke Batavia masuk
Sekolah Dagang Prins Hendrik School, yaitu sekolah H.B.S. K.W. III bagian
A yang khusus mengajarkan ekonomi, bahasa dan ilmu dagang, dan lulus
pada usia 19 tahun dengan nilai yang sangat memuaskan. Selain itu, para
bekas siswa-siswi K.W. III ini, ikut andil dalam mengisi kemerdekaan.
308 Nilai Maknawi Bangunan Sekolah Hogere Burgerschool Koning Willem III ...

