Page 330 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 330

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

            Perpustakaan Nasional R.I., yaitu  pada tanggal 27 Januari 1987, seperti
            yang  tertera  pada  prasasti  pembukaan,  juga  memiliki  makna  yang
            sangat penting sebagai sebuah  Perpustakaan  Nasional  milik  negara
            Republik  Indonesia  yang  baru  memiliki  sebuah  perpustakaan  nasional
            setelah  merdeka  42  tahun,  hingga  memungkinkan  masyarakatnya  dapat
            memanfaatkan  keberadaan  Perpustakaan  Nasional  dengan  segala  fungsi
            yang memungkinkan  terbukanya  lebih  luas wawasan pengetahuannya.
            Berikut adalah kutipan ungkapan tulisan salah satu siswa HBS KW III:
                     “Tanggal 11 Maret 1989 sekali lagi semenjak 27 November 1860
                    jadi 129 tahun kemudian berlangsung suatu upacara kenegaraan
                    di bekas gedung utama K.W. III. Merah-Putih kini menggantikan
                    Merah-Putih-Biru dan dalam suatu acara khidmat Bapak Presiden
                    Soeharto meresmikan pemakaian gedung K.W. III. Merah-Putih
                    kini  menggantikan  Merah-Putih-Biru  dan  dalam  suatu  acara
                    khidmat Bapak Presiden Soeharto meresmikan pemakaian gedung
                    perpustakaan Nasional R.I. Bangkitlah kembali kompleks bekas
                    K.W. III ke fungsinya mencerdaskan kehidupan bangsa, walaupun
                    bukan sebagai lembaga  pendidikan, tetapi sebagai lembaga
                    perpustakaan,  tempat  menimba  pengetahuan  yang  tak  terhitung
                    nilainya bagi bangsa yang ingin maju” (Imrad Idris, 1992: p. 6).
                Tersirat  dari  kutipan  di  atas,  harapan  seorang  siswa  K.W.III  yang
            memaknai  bangunan yang pernah menjadi  tempat  penting  baginya
            sebagai  tumpuan  menuntut  ilmu  untuk bekal  hidupnya. Sekali  lagi
            sekarang bangunan ini seolah hidup kembali dan bangkit kembali, turut
            berperan dalam usaha mencerdaskan kehidupan intelektual rakyat di bumi
            Nusantara, Indonesia yang sudah merdeka. Namun apakah pemaknaan
            atau penafsiran siswa ini dapat dirasakan dan diselami pula oleh seluruh
            rakyat Indonesia yang pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 234.139,4
            juta jiwa ?  Masalahnya adalah tidak semua rakyat memiliki penafsiran
            makna yang sama seperti di atas.
                Benda  materi  hasil  buatan  manusia  di  masa  lampau  tidak  selalu
            dapat  ditangkap,  dimengerti  dan  ditafsirkan  dengan  makna  yang  sama
            oleh masyarakat pendukungnya pada waktu yang berbeda. Oleh karena
            itu penelitian ini perlu mengungkap tafsiran makna pada saat digunakan
            sebagai sekolah HBS KW III yang dikaitkan dengan tafsiran maknanya
            di masa kini, sehingga diharapkan  akan terlihat  arti penting bangunan
            tersebut bagi masa kini dan masa depannya nanti. Tafsiran makna yang
            sama  tentang  signifikansi  bangunan  HBS  KW  III  perlu  diungkap  agar
            dapat ditetapkan berpegang pada Undang-Undang R.I. Nomor 11 Tahun
            2010 pasal 3 tentang kriteria cagar budaya apabila memenuhi kriteria:


            310         Nilai Maknawi Bangunan Sekolah Hogere Burgerschool Koning Willem III ...
   325   326   327   328   329   330   331   332   333   334   335