Page 335 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 335

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

            orang. Dengan demikian,  makna konotasi dari kawasan Pondok Indah
            sebagai contoh dimaknai sebagai memiliki citra “kawasan orang kaya”,
            “kawasan kelas atas”, “kawasan elit”,  “kawasan orang kaya baru hasil
            usaha tidak halal”, “kawasan yang menyenangkan” (Hoed, 2011: p.245).
            Hoed menjelaskan bahwa “tanda  sebagai  unsur  budaya  tebuka  pada
            berbagai penafsiran, jadi tidak inheren pada tanda itu, namun diberikan
            oleh kelompok masyarkat yang mencerapnya”.
                Dalam penelitian ini, wawancara yang dilakukan  terhadap  siswa-
            siswi HBS KW III dimaksudkan agar dapat memperoleh kognisi siswa-
            siswi terhadap pencitraan  sekolah tersebut dari sudut siswa-siswinya.
            Wawancara  dilakukan  pula  terhadap  masyarakat  yang  hidup  masa  kini
            agar memperoleh pula pencitraan terhadap bangunan ini di masa sekarang
            berdasarkan  anggapan  masyarakatnya  kini.  Makna  yang  diperoleh  dari
            hasil pencitraan informan 1,2,3 dan seterusnya, disebut makna konotasi
            informan 1, 2, 3 dan seterusnya. Akibat dari makna konotasi ini semua
            maka terbentuk simbol yang oleh Pierce disebut indeks, ikon, lambang.
            Pierce  mencari  makna  dari  objek  yang  dibicarakan  dengan    mengacu
            pada makna berdasarkan kesepakatan yang telah diterima oleh kelompok
            masyarakatnya, atau disebut konvensi sosial (Hoed, 2011: p. 246). Dijelaskan
            oleh Hoed (2011: p. 246) bahwa Pierce membedakan 3 jenis tanda dalam
            mencari makna dari objek yang dibicarakan tersebut, yaitu indeks, ikon dan
            lambang. Indeks merupakan makna yang terungkap berdasarkan hubungan
            sebab-akibat yang terlihat secara langsung. Contoh yang digunakan Hoed
            adalah “tanah, daun dan pohon yang basah adalah indeks bagi objek hujan
            semalam” atau contoh lain adalah “asap yang terlihat dari kejauhan adalah
            indeks dari objek kebakaran”. Sementara yang disebut ikon adalah tanda
            yang hubungan representamen dengan objeknya, didasarkan pada tiruan
            identitas  objek  yang  dirujuknya.  Hoed  (2011:  p.246)  memberi  contoh
            foto seorang laki-laki adalah ikon bagi objek: “ laki-laki tertentu”. Lalu
            yang disebut lambang adalah tanda yang hubungan representamen dengan
            objeknya, didasarkan atas konvensi. Contohnya adalah lampu lalu-lintas
            warna merah yang merujuk pada objek “larangan”  karena berdasarkan
            kesepakatan dalam masyarkat atau konvensi sosial, warna merah artinya
            larangan (Hoed, 2011: p.246).
                Dalam penelitian ini, makna bangunan HBS KW III dapat berbeda-
            beda  berdasarkan  fungsinya  pada  masa-masa  yang  berbeda  dan  juga
            didasarkan pada pandangan orang-orang yang memaknai  dan menilai,
            seperti pandangan orang Eropa terhadap  bangunan tersebut berbeda
            dengan pandangan orang pribumi pada saat itu. Demikian pula pandangan
            diantara siswa-siswi pribumi yang bersekolah saat itu  dengan pandangan
            masyarakat pada zaman ini. Dalam hal ini hubungan antara bangunan HBS

            Tamara Adriani Salim                                          315
   330   331   332   333   334   335   336   337   338   339   340