Page 334 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 334

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

                Dalam  penelitian  ini  manusia  yang  pernah  mengalami  peristiwa-
            peristiwa yang dialami selama bersekolah di HBS KW III ini masih dapat
            diajak  berkomunikasi,  artinya  informan  siswa  dapat  diwawancarai  agar
            dapat menangkap makna yang terdapat dalam kognisi informan saat itu
            selama  bersekolah.  Makna  yang  diperoleh  dari  kognisi  para  informan
            ini  merupakan makna konotasi atau makna kedua yang sudah  dianggap
            sebagai suatu konvensi yang disepakati dan diterima para siswa zaman itu.
            Jadi maknanya didasarkan oleh praktik sosial yang dialami oleh orang-
            orang pada zaman itu.
                Hodder dalam upaya mencari arti atau menerjemahkan makna dari
            materi budaya dari zaman yang tidak dikenalnya, berusaha meletakannya
            ke dalam berbagai konteks, namun dengan catatan tiap konteks bergantung
            pada  asumsi  umum  yang  berlaku  pada  masyarakatnya.  Hodder  dapat
            dikatakan  memiliki  prinsip yang sama dengan yang digunakan oleh
            para  ahli  semiotika  Roland  Barthes  (1915-1980)    dan  Pierce  dalam
            membangkitkan atau mengungkap makna objek yang  dibicarakan, yaitu
            menggunakan konsep tanda. Barthes dalam mencari arti atau makna dari
            objek  yang  dibicarakannya,  mengacu  pada  hubungan  atau  relasi  (R),
            antara ekspresi (E), atau yang disebut dengan bentuk,  dan isinya (C), atau
            yang  disebut  dengan  makna.  Hubungan  relasi  ini  dalam  sistem  primer
            hanya mengacu pada makna sebenarnya yang nyata atau disebut makna
            denotasi. Sebagai contoh Hoed (2011: p.245) memberikan contoh yang
            sangat jelas yaitu nama sebuah kawasan pemukiman di Jakarta Selatan
            yang disebut Pondok Indah. Nama tersebut dalam sistem primernya hanya
            mengacu  pada  pengertian  nama  sebuah  kawasan  pemukiman.  Makna
            relasi  antara  bentuk  (E)  dan  isinya  (C)  ini  memiliki  sistem  sekunder
            yang dapat dikembangkan, pertama, ke segi bentuknya (E) yang bersifat
            metabahasa. Dengan demikian makna Pondok Indah , dapat diterangkan
            sebagai  misalnya  “kawasan  yang  letaknya  di  bagian  Selatan  Jakarta”,
            “yang luasnya sekian hektare”, “yang rumah-rumahnya serta halamannya
            luas”, “yang di dalamnya terdapat pertokoan mewah”(Hoed, 2011: p.245).
            Lebih lanjut dijelaskan oleh Hoed, relasi ini dapat dikembangkan pula ke
            segi yang kedua, yaitu ke segi atau ke arah isinya (C), maka penjelasannya
            bukan lagi tentang apa makna Pondok Indah tapi citra apa yang diperoleh
            dari nama kawasan Pondok Indah tersebut. Pencarian  makna terhadap
            citra nama kawasan ini lah yang disebut dengan makna konotasi. Menurut
            Hoed (2011: p.245) citra ini diperoleh dari pandangan masyarakat terhadap
            nama tersebut. Jadi citra terhadap nama kawasan tersebut yang diperoleh
            dari kognisi masyarakatnya. Pandangan masyarakat ini bergantung pada
            kebudayaan yang hidup dalam masyarakat itu. Pandangan ini dijelaskan
            tidak hanya satu namun bervariasi bergantung pengalaman tiap kelompok

            314         Nilai Maknawi Bangunan Sekolah Hogere Burgerschool Koning Willem III ...
   329   330   331   332   333   334   335   336   337   338   339