Page 338 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 338
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
V. METODE PENGUMPULAN DATA
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan
lapangan, wawancara penelusuran sumber literatur sekunder secara intensif,
pengumpulan data sekunder. Dalam pengamatan lapangan untuk deskripsi
fisik, dilakukan pengamatan dengan pemotretan fisik bangunannya. Dalam
pengamatan awal untuk wawancara, dilakukan persiapan pengumpulan
data lapangan dengan peneliti sebagai instrumen penelitian mempersiapkan
pegangan wawancara. Instrumen penelitian ini disesuaikan dengan masalah
dan tujuan dari penelitian ini. Metode Analisis Data
Metode analisis data atau metode pengolahan terhadap data yang
sudah terkumpul dilakukan dengan menggunakan analisis perbandingan.
Data-data yang sudah terkumpul diklasifikasikan menurut jenis datanya.
Jenis data tersebut dibandingkan untuk melihat perubahan yang terjadi
berdasarkan waktu, bentuk fisik bangunannya dan pandangan-pandangan
pendukung budayanya. Analisis makna konotatif dilakukan sesuai teori
Roland Barthes yang telah disebutkan di atas. Analisis makna yang
tersirat dilakukan dengan menggunakan temuan data sejarah bangunan,
melalui peta, foto, gambar denah bangunan dan bukti-bukti literatur yang
menggambarkan kegiatan dan perilaku masyarakat pendukung budaya
pada saat digunakan sebagai sekolah HBS KW III dibandingkan dengan
data-data yang ditemukan ketika telah digunakan sebagai PNRI, termasuk
hasil wawancara dengan masyarakat pendukung budaya di masa sekarang.
VI. METODE INTERPRETASI DATA
Penafsiran data dalam penelitian ini dilakukan sesuai dengan teori Ian
Hodder correspondence dan coherence yang mengaitkan hasil dari temuan
pada tahap analisis sebelumnya yaitu, mengenai sejarah bangunan sekolah
HBS KW III, dikaitkan dengan pemikiran dan perilaku budaya siswa-siswi
HBS KW III, dan dihubungkan dengan morfologi dari susunan tata bentuk
bangunan, keaslian serta alihfungsi bangunannya.
VII. SEJARAH BANGUNAN SEKOLAH HBS KW III
Berdasarkan temuan peta yang dibuat oleh P. van Rees bertuliskan
tahun 1860 keberadaan sekolah HBS KW III saat itu walau belum
digambar dalam peta tersebut namun sudah dikenal dengan sebutan
Salemba. Sehubungan dengan asal-usul penyebutan nama Salemba, dari
sumber tertulis (Ruchiat, 2011: p. 123-124) dinyatakan bahwa kawasan
Salemba saat itu bernama Struyswijk yaitu kawasan antara jalan Kramat
Raya dan jalan Matraman Raya. Disebut kawasan Struys karena tuan tanah
pertamanya adalah seorang mantan pejabat Kompeni kaya raya bernama
318 Nilai Maknawi Bangunan Sekolah Hogere Burgerschool Koning Willem III ...

