Page 341 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 341
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
VIII. PEMIKIRAN DAN PERILAKU BUDAYA SISWA-SISWI HBS
KW III
Sikap dan pandangan intelektual HBS KW III dapat dibuktikan dari
hasil-hasil kegiatan yang tercatat dalam rapor, kurikulum, bukti kegiatan
dari dokumentasi foto-foto yang masih ada, kegiatan majalah sekolah, hasil
tulisan berupa tulisan-tulisan dan buku-buku harian serta hasil wawancara
yang dibandingkan dengan hasil wawancara masyarakat kini.
Pada tahun sesudah 1850, politik kolonial Belanda berorientasi
pada perluasan militer, perluasan pegawai, perluasan politik dan agama.
Khusus mengenai politik perluasan pengawai, akibatnya adalah dibukanya
pendidikan sekolah menengah untuk mendidik pegawai di perkebunan
dan tempat pemerintahan. Disebutkan dalam kurikulum peraturan sekolah
bahwa pengelolaan sehari-hari lembaga ini dijalankan oleh guru-direktur
yang diangkat oleh Gubernur Jenderal atas usul dewan kurator, dibantu
oleh seorang Amanuënsis. Disini memperlihatkan makna bahwa peraturan
sekolah HBS KW III memiliki citra yanag kuat pengawasannya langsung
dari Gubernur Jendral. Keterangan nama sekolah yang tercantum pada
buku rapor adalah Koning Willem III School Te Batavia. Jadi tidak diberi
keterangan nama H.B.S. di awalnya. Hal ini sesuai dengan yang diceritakan
dalam buku kenangan dalam rangka 115 tahun berdirinya H.B.S. K.W. III,
dalam buku berjudul Koning Willem III School (Opgericht te Batavia op 27
November 1860), diceritakan dalam buku tersebut bahwa sekolah H.B.S.
K.W. III ini dikenal oleh siswa-siswi dan masyarkat pada masa itu tidak
dengan sebutan H.B.S. namun hanya Koning Willem III School. Sekolah
H.B.S. di kota lain seperti Medan, Bandung, Semarang, dan Surabaya
menggunakan penamaan H.B.S. di depannya. Hal ini menunjukkan
keistimewaan dari sekolah ini. Bila dikaitkan antara penamaan sekolah
yang menggunakan nama raja Koning Willem III dan dikaitkan dengan
anggapan masyarakat pada masa itu yaitu “sekolah untuk anak-anak
raja” dalam hal ini anak-anak yang orangtuanya memiliki kedudukan di
pemerintahan masa itu, termasuk pula anak-anak bumiputra bangsawan
yang memiliki kesempatan untuk masuk sekolah itu, maka penamaan
sekolah Koning Willem III untuk sekolah ini memiliki citra sebagai
sekolah untuk anak-anak raja, sekolah anak elit pribumi. Penilaian raport
yang merupakan penentu penghargaan atas prestasi siswa, menggunakan
ungkapan yang menyiratkan ketatnya pendidik dalam menilai prestasi
siswa-siswi. Penilaian ini menunjukan HBS KW III dicitrakan sebagai
sekolah yang ketat dalam memberikan prestasi kerja siswanya,
mencerminkan pengajaran berbau kolonial (menjajah) yang kuat.
Tamara Adriani Salim 321

