Page 339 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 339
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
Abraham Struys. Daerah Salemba dimana terletak sekolah HBS KW III
pada waktu itu, berada di luar kota perdagangan Batavia Lama dan di
luar lokasi daerah pemerintahan Weltervreden, sehingga terkesan seolah
menjauh dari lingkungan perdagangan dan pemerintahan yang bising.
Makna bangunan sekolah HBS KW III pada tahun ini dicitrakan sebagai
sebuah sekolah ideal di kawasan pendidikan.
Berdasarkan peta tahun 1887 (17 tahun setelah dibukanya sekolah
ini), daerah tersebut digambarkan dengan warna hijau, masih dikelilingi
oleh hutan dan tanah tegalan. Kenyataan memperlihatkan bahwa daerah
lingkungan sekolah HBS KW III ini pada tahun 1887 sudah berkembang
menjadi daerah yang penting. Terbukti dari gambaran sarana transportasi
yang melewati sekolah ini. Diketahui bahwa jalur Batavia-Buitenzorg
(Jakarta-Bogor) sudah dibuka tahun 1873 (Handinoto, 1999: p.48-49).
Berdasarkan literatur yang ditemukan diketahui bahwa jaringan jalan
kereta api di Jawa dibangun antara tahun 1870-an sampai tahun 1920-an.
Gagasan pembangunan jalan kereta api sudah muncul sejak th. 1840, tapi
baru dilaksanakan pada th. 1871. Jalur pertama adalah Semarang-Kedung
Jati, diresmikan pada th. 1871. Berdasarkan temuan sumber tertulis dalam
biografi Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat (1992: p. 93-94) yang
bersekolah di HBS KW III dari tahun 1893-1899, tersirat bahwa sungai
Ciliwung yang terletak di belakang sekolah HBS KW III ini pada saat
itu tidak hanya merupakan penambah lengkapnya suasana pemandangan
indah di belakang sekolah, namun sungai Ciliwung ini pada saat itu
berfungsi sebagai tempat berlatih dayung oleh para siswa-siswi HBW KW
III. P. A. Achmad Djajadiningrat adalah pribumi pertama yang lulus. Rasa
nasionalisme yang tertanam dalam jiwa para siswa-siswi HBS KW III juga
terlihat pada siswa-siswi lainnya, seperti yang ditemukan pada salah satu
sumber literatur karya Purwoto Gandasubrata (2003; p. 58-60), siswa R.A.
Soedjiman Gandasubrata, siswa pribumi ke-8 terdaftar dengan nama Raden
Soedjiman (1906-1912) ketika mencapai jabatan sebagai Bupati Banyumas,
dikisahkan di atas dengan tegas menolak bekerjasama dengan pemerintah
Belanda hingga akhirnya beliau dianggap non kooperatif dan dieksternir
keluar dari Banyumas, hingga menyebabkan khususnya para pamongpraja
turut menolak bekerjasama dengan Belanda pula. Sekolah HBS KW III
memiliki citra sebagai pencetak siswa-siswi berjiwa nasionalis.
Berdasarkan peta Batavia dan sekitarnya tahun 1897, memperlihatkan
Batavia dan sekitarnya sudah dilengkapi dengan transportasi kereta listrik
dan kereta api beserta stasiunnya. Haji Agus Salim adalah pribumi ke-2
yang berhasil lulus tahun 1903 dari hanya 12 orang siswa yang terdaftar
lulus tahun tersebut. Selama 6 tahun bersekolah 5 tahun berturut-turut
selalu menjadi juara 1 di kelasnya. Bekal pendidikan tradisional kuat
Tamara Adriani Salim 319

