Page 65 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 65
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
Through his critical theory Habermas explores the state of society through the
paradigm of lifeworld and systems. At the lifeworld level, the process of social
integration and symbolic reproduction of society is the result of the intention and
the orientation of social actor values. However, what happens is that routine social
actions go beyond the intentions of actors so that at the system level the social
integration goes beyond the wishes and awareness of social actors. Its peak is
in colonization that is the process of society as system infiltrates into society as
lifeworld. This stage is followed by a lifeworld siltation which has a negative
impact on social integration. This Habermas>s theory is used as the perspective of
library praxis critical analysis.
Keywords: system, life world, Library and Information Science
I. PENDAHULUAN
Modernitas adalah titik awal emansipasi manusia dari berbagai
bentuk penundukan mitos, ideologi, dominasi dan tradisi. Sebagai suatu
bentuk kesadaran modernitas dicirikan oleh tiga hal, yaitu subjektivitas,
kritik, dan kemajuan. Subjektivitas, dalam pengertian manusia menyadari
dirinya sebagai pusat aktivitasnya, sebagai yang mampu menentukan diri
sekaligus menjadikan dirinya ukuran terhadap kenyataan. Ciri lainnya
kritik, yakni bahwa subjektivitas yang berpusat pada rasio manusia tidak
hanya menjadi sumber pengetahuan, melainkan juga memiliki kapasitas
praktis untuk membebaskan manusia dari wewenang tradisi atau otoritas
yang menciptakan prasangka-prasangka yang menyesatkan. Keduanya,
subjektivitas dan kritik, menjanjikan kemajuan bagi manusia. Dengan
kapasitas yang dimilikinya, manusia yakin bahwa sejarah yang akan ia
jalani adalah sejarah yang tak akan terulang dan perkembangan itu bergerak
dari keterbelakangan ke arah kemajuan.
Salah satu yang lahir dari modernitas, adalah masyarakat modern.
Masyarakat modern mencapai tingkat pembedaan sistem di mana
organisasi-organisasi yang semakin otonom dihubungkan satu sama lain
melalui media “de-linguistifikasi”: mekanisme sistemik ini -misalnya
uang- mengendalikan hubungan sosial yang sebagian besar telah tercerabut
dari norma dan nilai, terutama dalam subsistem tindakan ekonomi dan
administrasi (Habermas, 1987). Jika dibandingkan dengan masyarakat
tradisional yang membangun hubungan sosial dan ekonominya berdasarkan
unsur-unsur kekerabatan, agama, kesukuan dan sebagainya, masyarakat
modern sebaliknya membangun hubungan sosial atau ekonominya melalui
media uang dengan rasionalitasnya yang bersifat instrumental.
Rasionalitas instrumental tersebut pada gilirannya membentuk cara
berpikir monologis. Masalah politik di Suriah misalnya, di mana rakyat
Yohanes Sumaryanto 45

