Page 69 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 69
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
memiliki pengetahuan dan dengan pengetahuan yang dimilikinya itu ia
meningkatkan sifat fungsionalnya atas lingkungannya sebagai objek dan
merekayasa lingkungan tersebut demi mencapai tujuan tertentu.
Maka, tindakan rasionalitas instrumental ini cenderung menjadi
represif bila komunikasi tidak berjalan dan tidak tercapainya pemahaman
atau konsensus. Ada banyak cara untuk mengakhiri klaim yang saling
berlawanan misalnya, dengan menggunakan otoritas, tradisi atau paksaan/
koersif. Di antara cara-cara ini adalah mengemukakan alasan untuk
membela atau alasan untuk membantah (McCharty dalam Habermas,
1984). Ini berarti dalam komunikasi, apa yang disebut sebagai pencapaian
pemahaman timbal-balik yang bebas dari dominasi tidak terjadi.
Justru sebaliknya, komunikasi itu tidak memberikan kemungkinan dan
kesempatan bagi setiap pihak untuk mengungkapkan alasan atau dasar
demi memperoleh pengakuan intersubjektif atas klaim-klaim yang
dipertanyakan.
Jika demikian yang terjadi adalah kebuntuan dalam komunikasi.
Kebuntuan yang dimaksud adalah bahwa “medium reflektif” untuk
menunjukkan klaim atas validitas dan legitimasi tidak dipakai di sini,
yakni mode argumentasi atau kritik yang memungkinkan setiap peserta
dalam komunikasi mentematisasikan validitas klaim yang diperdebatkan
dan mencoba membenarkan atau mengkritiknya (McCharty dalam
Habermas, 1984). Padahal lewat medium reflektif ini orang dihantar
kepada kemampuan psiko-sosial yang memungkinkannya menghadapi
persoalan bukan dengan paksaan, klaim otoritas atau tradisi, melainkan
menghadapinya dengan rasional-argumentatif. Rasional berarti setiap
pendirian dan keyakinan kita dapat dipertanggungjawabkan dengan
argumentasi yang objektif. Objektif berarti terbuka terhadap pembenaran
atau pun penyangkalan intersubjektif, di mana pendirian kita itu dapat
ditanggapi oleh setiap orang secara terbuka, kritis dan tanpa takut
dibungkam dengan kekerasan (Magnis-Suseno, 2005).
Berdasarkan uraian di atas, penulis akan mengulas problem
reduksifasi dunia kehidupan menurut Jürgen Habermas.
II. TINJAUAN LITERATUR
A. Sistem dan Dunia Kehidupan Menurut Habermas
Habermas memahami masyarakat dalam paradigma ganda, sistem
dan dunia kehidupan. Dengan paradigma tersebut, kita bisa memandang
masyarakat menurut model tertentu dan menganalisisnya menurut aspek
yang paling menentukan proses dinamisnya. Ontologi sosial Habermas
adalah tentang teori susunan masyarakat abad ke-20 yang pada pokoknya
Yohanes Sumaryanto 49

