Page 68 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 68
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
terserap masuk ke dalam masyarakat kapitalisme lanjut. Karena terserap
masuk dalam masyarakat demikian, karakter revolusionernya menjadi
mati.
Yang kedua, Teori Kritis mengalami jalan buntu dalam apa yang
menjadi intensinya: dimensi praktis (Magnis-Suseno, 2005). Menurut
Horkheimer dan Adorno sejarah adalah suatu perkembangan kesadaran
manusia, suatu proses pencerahan di mana tindakan manusia semakin
menjadi rasional. Menjadi rasional pada manusia ditandai dengan semakin
berkembangnya ilmu-ilmu alam yang memuncak pada teknologi. Upaya
membebaskan manusia dari alam dengan menguasai hukum-hukum alam
yakni melalui teknologi justru melahirkan model penindasan baru yakni
rasionalitas instrumental (Habermas, 1984). Terdapat dua aspek penindasan
lewat rasionalitas instrumental ini yakni logika formal dan dominasi teknik
menyangkut tuntutan efektivitas (Haryatmoko, 2010).
Berkaitan dengan kebuntuan ini, Habermas melihat bahwa kegagalan
Horkheimer dan Adorno terletak, di satu sisi dalam identifikasi mereka
antara rasionalisasi masyarakat dengan ekspansi rasionalitas dalam
konteks tindakan instrumental dan strategis, dan pada sisi lain terletak
pada perancuan konsep dasar teori tindakan dengan konsep teori sistem.
Beginilah Habermas menulis (Habermas, 1984).
“On the one hand, Marx, Weber, Horkheimer and Adorno identify
societal rationalization with expansion of the instrumental and strategic
rationality of action contexts; on the other hand, they all have a vague
notion of an encompassing societal rationality and it is against this that
they measure the relative position of empirically described processes of
rationalization.”
Karena tujuan dan nilai diabaikan, yang berarti juga sifat kritis rasio
manusia disingkirkan, maka dalam penentuan suatu kebijakan publik
misalnya, bukan lagi ditentukan berdasarkan suatu kesepakatan yang
diklaim bersama melainkan berasal dari hasrat dan kepentingan mereka
yang mempunyai kekuasaan untuk memaksakannya. Dalam rasionalitas
model ini, kelihatannya saja manusia semakin menjadi rasional yang
ditunjukkan misalnya lewat efektivitas karena kompetensi penguasaan
teknologi. Namun sebenarnya manusia yang ditundukkan di bawah kendali
rasionalitas instrumental ini yakni teknologi, kelihatannya saja bebas, tetapi
sebenarnya berada di bawah dominasi. Itulah sebabnya Marcuse menulis
bahwa rasional dalam detail, irasional dalam keseluruhan.
Hubungan yang dibangun berdasarkan rasionalitas instrumental ini
didasarkan atas pengandaian hubungan subjek-objek. Dalam perspektif
dikotomis ini, hubungan subjek dengan objek diandaikan bersifat representasi
dan tindakan (McCharty dalam Habermas, 1984). Jadi subjeklah yang
48 Reduksi Dunia Kehidupan menurut Jurgen Habermas

