Page 71 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 71

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

            Habermas menggeser perhatian kita ke konteks tindakan bertujuan
            individu yang lebih luas, ke struktur interaksi sosial yang menjadi tempat
            bagi tindakan-tindakan teleologis (Habermas, 1984). Pergeseran perhatian
            dari dimensi teleologis kepada dimensi komunikatif dalam tindakan sosial
            membuat  analisis  bahasa,  sebagai  media  komunikasi,  menjadi  kunci
            penting bagi peletakan dasar teori sosial. Dengan menggunakan linguistik
            dan filsafat bahasa, maupun psikologi perkembangan kognitif, Habermas
            mengemukakan gagasan dasar teori kompetensi komunikatif (Habermas,
            1984).
                Menurut  Habermas  kemampuan  kita  berkomunikasi  memiliki  inti
            universal  struktur-struktur  dasar  dan  aturan  fundamental  yang  dikuasai
            seluruh  subyek  dalam  belajar  berbicara  suatu  bahasa.  Kompetensi
            komunikatif bukan hanya soal kemampuan memproduksi kalimat-kalimat
            gramatikal.  Dalam  berbicara  kita  menceritakan  diri kita  kepada  dunia,
            kepada  subyek lain,  tentang  maksud,  perasaan  dan hasrat-hasrat  kita.
            Pada setiap dimensi tersebut kita selalu mengklaim meski biasanya hanya
            secara implisit, tentang validitas dari apa yang kita katakan, maksudkan,
            kita  yakini  -misalnya,  klaim atas  kebenaran  dari  apa  yang  kita  katakan
            menyangkut  dunia  objektif;  atau  klaim  tentang  ketepatan,  kesesuaian,
            atau legitimasi bicara kita tentang nilai-nilai dan norma-norma bersama
            dunia kehidupan kita; atau klaim kejujuran atau otentisitas ekspresi nyata
            maksud dan perasaan kita. Pada dasarnya, klaim-klaim semacam ini dapat
            diperdebatkan, dikritik, dipertahankan dan direvisi.
                Ada  banyak  cara  untuk  mengakhiri  klaim  yang  saling  berlawanan
            -misalnya, dengan menggunakan otoritas, tradisi atau paksaan. Diantara
            cara-cara  tersebut adalah  mengemukakan  alasan untuk membela  atau
            membantah.  Cara  ini  secara  tradisional  dipandang  sebagai  gagasan
            rasionalitas paling dasar dan fundamental. Pengalaman tentang pencapaian
            pemahaman  timbal  balik  dalam  komunikasi  yang bebas dari paksaan
            yang dicoba dilihat Habermas demi mengembangkan gagasannya tentang
            rasionalitas (Habermas, 1984).
                Kata  kunci  bagi  konsep  Habermas tentang  pencapaian  pemahaman
            adalah  kemungkinan  penggunaan  rasio  atau  dasar  untuk  memperoleh
            pengakuan intersubjektif atas klaim klaim validitas yang dapat dikritik.
            Kemungkinan  ini  terdapat  dalam  ketiga  dimensi  di  atas.  Bukan  hanya
            klaim  kebenaran  proporsional  dan  efektivitas  sarana  pencapaian  tujuan
            yang dapat dikritik dan dipertahankan dengan alasan; klaim bahwa suatu
            tindakan tepat atau sesuai dalam relasinya dengan konteks normatif tertentu
            atau bahwa konteks tersebut layak diakui syahnya, juga dapat didiskusikan
            dengan cara yang sama; begitu pula dengan klaim bahwa suatu tindak tutur
            adalah  ungkapan yang tulus dan otentik  dari  pengalaman-pengalaman

            Yohanes Sumaryanto                                             51
   66   67   68   69   70   71   72   73   74   75   76