Page 76 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 76

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

                                III. METODE PENELITIAN
                Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan historis-
            faktual menggunakan metode hermeneutika kritis. Di sini, peneliti berusaha
            mendalami gagasan Habermas sebagaimana dielaborasi dalam karyanya
            The Theory of Communicative Actions I-II, terutama menyangkut topik
            tentang dunia kehidupan dan sistem. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha
            memahami gagasan Habermas sedekat mungkin. Teknik hermeneutik kritis
            meliputi dua hal: merekonstruksi teks dan mendorong refleksi penulisnya.
            Yang pertama  adalah  tugas interpretasi,  sedangkan yang kedua adalah
            tugas analisis. Tugas analisis mencoba menemukan sebab mengapa teks
            macam  itu  yang  dihasilkan  (Hardiman,  2015).  Dalam  analisa  terhadap
            perpustakaan, peneliti menggunakan teknik hermeneutik kritis tersebut.

                              IV. DATA DAN PEMBAHASAN
                Teori  Habermas  tentang  kolonisasi  sistem  atas  dunia  kehidupan
            merupakan jawaban  cerdas, sekaligus orijinal  dan mendalam  terhadap
            pertanyaan  ‘Apa  yang  salah  dengan  dunia  masyarakat  modern  dan
            mengapa?,’ sekaligus memperjelas akar penyebab dari anomie, alienasi, dan
            fragmentasi sosial yang menimpa masyarakat modern. Masalah-masalah
            ini  berakar  pada  cara  pandang  yang  melihat  masyarakat  sebagai  suatu
            jaringan  fungsional  menurut  pola  relasi  subjek-objek,  yang  merupakan
            warisan pemikiran Cartesian. Dalam pola hubungan ini, aspek atau
            fungsi komunikatif yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya, dan
            yang secara inheren terkandung dalam sosialitas masyarakat digelapkan
            (verdunkelt)  atau  disingkirkan  secara  sistematis,  karena  perhatian  yang
            berlebihan  pada  efisiensi  administratif  atau  pemerolehan  keuntungan.
            Pada titik ini, subjek selalu menempatkan orang lain sebagai objek yang
            dapat dieksploitasi bahkan dijadikan sarana pencapaian tujuan-tujuan, dan
            ketiadaan pengakuan satu sama lain sebagai subjek yang setara.
                Selanjutnya, dengan menyadari bahwa masyarakat secara tak sadar
            berada dalam suatu lingkaran tertutup dan menindas, yang dikendalikan
            melalui aspek-aspek non-linguistik seperti uang dan sistem administrasi
            birokratis,  Habermas menyodorkan dimensi komunikasi sebagai solusi
            emansipatif  terhadap  kolonisasi  dunia  kehidupan  masyarakat.  Dalam
            pemahaman yang demikian tentang komunikasi dan diskursus, terkandung
            segi normatif yang kaya, sehingga analisisnya memiliki warna etis yang
            kental.  Bagi  Habermas,  tindakan  komunikatif  berbasis  pada  pengakuan
            satu sama lain berdasarkan klaim-klaim validitas yang telah melalui uji
            coba dan perdebatan rasional. Habermas menemukan bahwa dalam dunia
            kehidupan, mekanisme wicara yang mengkoordinasi tindakan memaksa
            orang untuk mempertimbangkan pembicara, pendengar, dan agen lain serta

            56                          Reduksi Dunia Kehidupan menurut Jurgen Habermas
   71   72   73   74   75   76   77   78   79   80   81