Page 77 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 77
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
alasan mereka. Diskursus dicapai melalui aturan yang menjamin persamaan
dan solidaritas universal terhadap orang lain secara keseluruhan. Cita-cita
ekualitas, universalitas, dan inklusivitas terkandung dalam tindakan dunia
kehidupan, dan para agen wajib ketika berkomunikasi, menyesuaikan
dengan itu semua. Konsekuensinya, sosialisasi dalam dunia kehidupan
adalah suatu jenis moralisasi – proses membiasakan bertindak sesuai
dengan ideal itu.
Sebaliknya, sistem menanamkan kebiasaan instrumental mem-
perlakukan orang lain sebagai sarana menuju tujuan kita sendiri dan
memupuk ketidakpedulian pada tujuan orang lain. Bagi Habermas, suatu
fenomena seperti di atas muncul dari efek de-moralisasi dari kolonisasi
dunia kehidupan oleh sistem, tidak dari moralitas itu sendiri. Hasil dari
ini semua adalah metafora Habermas, patologi sosial, memiliki sisi moral
yang tidak dikatakan dan dinyatakan secara langsung. Di permukaan
dari teorinya, dinyatakan bahwa kolonisasi dunia kehidupan membuat
masyarakat malfungsi; di bagian bawah diberi kesan bahwa malfungsi
inilah yang menghasilkan individu-individu cacat moral.
Dalam telisik kritis Habermasian ini, kita menemukan kalau teori
tentang rasionalisasi masyarakat merupakan suatu formulasi yang paling
maju dari teori kritis setelah generasi Adorno, Horkheimer dan Marcuse
berlalu. Habermas berhasil meninggalkan fungsionalisme Mazhab Frankfurt
generasi pertama dengan memberi perhatian pada matra intersubjektivitas
linguistik dan hermeneutik dari tindakan sosial. Habermas melihat proses
reproduksi masyarakat tidak hanya menyangkut sistem yakni bertambahnya
kompleksitas dan otonomi mekanisme pengendali masyarakat, melainkan
juga menyangkut dunia kehidupan yakni matra komunikasi intersubjektif
dalam horizon norma-norma. Habermas berhasil memperlihatkan bahwa
dialektika pencerahan bukan hakikat modernitas, melainkan suatu patologi
zaman kita yang disebabkan oleh intervensi sistemik yang terlalu besar
ke dalam praktik komunikasi sehari-hari. Persoalan-nya yang masih bisa
didiskusikan di sini adalah apakah dengan distingsi antara sistem dan dunia
kehidupan, Habermas lalu tidak memandang keduanya sebagai fungsi-
fungsi kehidupan sosial. Bukankah dia merinci dunia kehidupan dalam
komponen-komponen dan fungsi-fungsi juga. Axel Honneth, misalnya
berpendapat bahwa dengan distingsi ini justru Habermas berada dalam
bahaya menjatuhkan diri dalam apa yang disebutnya godaan-godaan
teori sistem-sistem. Hasil diskusi mengenai soal ini, menurutnya, akan
menentukan masa depan Teori Kritis.
Dalam penelitian ini, formulasi teoretis yang dikembangkan oleh
Habermas seperti yang diuraikan di atas, yakni mengenai dunia kehidupan
dan sistem menjadi alat analisa, yang dipakai untuk menelisik secara kritis
Yohanes Sumaryanto 57

