Page 79 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 79

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

            zaman  orde baru  perpustakaan  nasional  menjadi  tempat  penyimpanan
            buku-buku yang dilarang,  artinya  buku tersebut hanya dapat diakses
            atau dibaca oleh kalangan tertentu melalui izin terlebih dahulu. Penulis
            menemukan cara ini merupakan suatu sistem yang bersifat koersif, yang
            mengakibatkan demokratisasi pengetahuan mengalami kebuntuan.
                Kebuntuan demokratisasi pengetahuan semacam ini, dari sisi tilikan
            dunia kehidupan  Habermasian,  memerlihatkan  kegagalan  komunikasi
            pengetahuan yang membantu memerluas horizon masyarakat yang plural
            dan multikultur. Sebagai bangsa yang beragam, demokratisasi pengetahuan
            melalui  perpustakaan  sebenarnya  menjanjikan  ideal  hidup  berbangsa
            yang berdamai dan berkeadilan, lewat penyebaran pengetahuan, di mana
            perpustakaan menjadi medium keterhubungan kepublikan di antara berbagai
            komunitas yang berbeda, namun karena perhatian yang lebih besar pada
            sistem administratif, perpustakaan justru gagal meningkatkan community
            empowerment, dan malah jatuh dalam tindak pelanggengan bentuk-bentuk
            isolasi, inekualitas dan marginalisasi masyarakat-masyarakat subalternum.
                Hal yang sama terlihat dalam konteks layanan perpustakaan kepada
            masyarakat.  Dari  perspektif  sistem  Habermasian,  administrasi  layanan
            perpustakaan  masih  terikat  dalam  tradisi  positivistik  barat  dan  belum
            mengakomodasi  nilai-nilai  lokalitas  yang menopang  integrasi  sosial.
            Kekurangan ini, direspon melalui program-program seperti Taman Bacaan
            Masyarakat  yang  memerlihatkan  karakter  pengetahuan  sebagai  suatu
            proses yang terikat dalam dunia kehidupan subjek.

                                      V. SIMPULAN
                Setelah  penelisikan  yang intens,  pada  bagian  akhir  ini, penulis
            menemukan bahwa dalam masyarakat modern yang menjadi semakin besar
            dan kompleks, sejalan dengan munculnya industrialisasi dan modernisasi,
            dan karena orang menjadi semakin mobile, tugas integrasi sosial menjadi
            semakin sulit, termasuk di dalamnya  bagaimana  membangun suatu
            interaksi sosial yang tetap melihat perbedaan sebagai suatu aspek yang
            memberi  peluang masyarakat  bergerak maju  kepada yang lebih baik.
            Dalam modernitas, di dalam tilikan  Habermas,  sistem  seperti  ekonomi
            dan  administrasi  negara  memudahkan  beban  yang  menjadi  tugas  dari
            komunikasi dan diskursus; mereka membantu  menjaga  keutuhan
            masyarakat.
                Di sana, evolusi sosial oleh Habermas dipahami sebagai suatu proses
            diferensiasi  tatanan  kembar  masyarakat:  sistem  dan  dunia  kehidupan.
            Sudah lazim di kalangan sosiolog membedakan tahap-tahap evolusi sosial
            sebagai  masyarakat  primitif,  masyarakat  tradisional  dan  masyarakat-


            Yohanes Sumaryanto                                             59
   74   75   76   77   78   79   80   81   82   83   84