Page 74 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 74
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
menyaksikan mengapa rasionalitas yang inheren dalam tindak tutur dapat
menjadi efektif secara empiris sejauh tindakan komunikatif mengambil
alih kemudi interaksi sosial dan memenuhi fungsi reproduksi sosial dan
fungsi pemeliharaan dunia kehidupan sosial. Potensi rasionalitas dalam
tindakan yang berorientasi pada pemahaman timbal balik dapat dibebaskan
dan diterjemahkan menjadi rasionalisasi dunia kehidupan kelompok sosial
selama bahasa memenuhi fungsi pencapaian pemahaman, koordinasi
tindakan, dan mensosilisasikan individu; dengan demikian merupakan
medium di mana reproduksi kultural, integrasi sosial serta sosialisasi
terjadi di dalamnya (Habermas, 1987).
Dunia dikatakan objektif kalau sudah diperhitungkan sebagai dunia
yang satu dan sama bagi komunitas subjek-subjek yang bicara dan
bertindak. Konsep dunia yang abstrak seperti itu adalah syarat mutlak
jika subjek-subjek yang bertindak secara komunikatif ingin mencapai
pemahaman di antara hal-hal yang terjadi di dunia atau hal-hal yang
dipengaruhinya. Pada saat yang sama melalui praktik komunikatif subjek-
subjek itu mengukuhkan hubungan kehidupan bersama mereka, suatu dunia
kehidupan yang dimiliki bersama secara intersubjektif. Dunia kehidupan
ini terikat pada totalitas tafsir yang diyakini oleh para anggotanya sebagai
pengetahuan dasar. Untuk menguraikan konsep rasionalitas, seorang
penganut fenomenologis harus menelaah syarat-syarat bagi tercapainya
konsensus secara komunikatif, dia harus menganalisis apa yang disebut
sebagai penalaran awam (Habermas, 1984).
Jika suatu komunitas mengarahkan dirinya kepada dunia yang pada
dasarnya bersifat konstan, yang sama-sama diketahui dan dapat diketahui
bersama dengan orang lain, maka dia akan memperoleh landasan yang
tepat untuk mengajukan pertanyaan yang prototipenya adalah :”bagaimana,
mungkin? Dia memahaminya sedangkan kamu tidak” (Habermas, 1984).
Pada model ini, ekspresi-ekspresi rasional memiliki ciri sebagai
tindakan bermakna, yang konteksnya dapat dipahami, di mana aktor
mengaitkan dirinya dengan sesuatu di dunia obyektif. Syarat validitas
ekspresi simbolik merujuk kepada pengetahuan yang menjadi latar
belakang yang dimiliki bersama secara intersubjektif oleh komunitas
komunikasi. Setiap selisih paham melahirkan satu tantangan tertentu bagi
latar belakang dunia kehidupan ini (Habermas, 1984).
D. Kolonisasi Dunia Kehidupan
Kolonisasi dunia kehidupan dapat dijelaskan sebagai berikut. Dunia
kehidupan yang mula-mula berdampingan dengan sistem sosial, semakin
menyusut menjadi suatu subsistem di antara subsistem-subsistem lain.
Pada proses ini, mekanisme sistemik semakin terlepas dari struktur sosial
54 Reduksi Dunia Kehidupan menurut Jurgen Habermas

