Page 67 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 67

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

            penyederhanaan  dan  formalisasi  rasionalitas  manusia  untuk  mencapai
            tujuan tertentu. Maka, yang terjadi adalah sifat kritis rasionalitas manusia
            disempitkan jangkauan pemahamannya, sebaliknya sifat fungsional rasio
            manusia ditingkatkan dan diperkuat. Artinya, ketika berhadapan dengan
            suatu tujuan, rasionalitas berfungsi memperlancar proses-proses menuju
            tercapainya tujuan itu dan tidak lagi memeriksa dan mengkritisi sarana dan
            tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya (Kleden, 1987).
                Dari  problem  kontemporer  di  atas,  pendekatan  yang  menggunakan
            paksaan sebenarnya berakar pada ketidakmampuan  penguasa menjaga
            serta memelihara legitimasi yang diperolehnya dari rakyat sekaligus ingin
            tetap memelihara akses kepada pencapaian kepentingan mereka. Artinya,
            di sini telah terjadi krisis legitimasi.
                Pada titik ini, kita akan dihadapkan pada klaim validitas atas suatu
            legitimasi. Entah apakah validitas itu dibangun di atas suatu dasar rasionalitas
            yang memadai  ataukah ia lebih sebagai bentuk rootless rationalism
            (McCharty dalam Habermas, 1984) yang menyembul keluar dari karakter
            egoisme, kecenderungan posesif dan dominatif dalam diri manusia, dan
            yang  secara analogis dapat juga disebut sebagai kecenderungan posesif
            dan dominatif mayoritas suatu masyarakat. Tanpa sadar, semua itu tidak
            jarang menjadi titik awal sikap ketertutupan dan penolakan atas kehadiran
            pihak yang berbeda atau yang nampaknya menyeleweng dari kebiasaan
            umum. Sikap demikian dalam sejarah manusia sering tampil dengan wajah
            yang berbeda, namun mempunyai satu warna dasar yang sama: bersifat
            dominatif dan menindas terutama pada pihak yang paling lemah.
                Karakter  dominatif  dan  penindasan  dari  suatu  cara  pandang  yang
            demikian tidak terlepas juga dari klaim kebenaran yang sering memberi
            pendasaran  dan  justifikasi  atas  setiap  tindakan.  Persoalan  validitas  atas
            klaim kebenaran ini menjadi salah satu titik perhatian Jṻrgen Habermas.
            Habermas sendiri mewarisi semangat Teori Kritis Masyarakat yang oleh
            Max Horkheimer dirumuskan sebagai teori masyarakat yang kritis, yang
            sebagai kritik, bersifat emansipatif demi perubahan sosial. Suatu teori kritis
            yang bersifat praktis (Magnis-Suseno, 2005). Teori ini bertujuan menelisik
            sejarah manusia untuk menemukan karakter-karakter dominatifnya yang
            sering tidak disadari oleh manusia sezamannya  dan dengan demikian
            membukanya demi tujuan emansipatif (bdk Magnis Suseno, 2005).
                Namun cita-cita Teori Kritis ini, yang berada di bawah pengelolaan
            generasi pertamanya ternyata mengalami jalan buntu. Setidaknya terdapat
            dua alasan kegagalan Teori Kritis melaksanakan proyek emansipatifnya.
            Yang pertama ditandai oleh fakta bahwa tidak ada lagi aktor revolusioner.
            Pada awalnya  aktor-aktor  revolusi  ini  diharapkan  datang  dari  kelas
            proletariat, tetapi dalam perkembangannya justru para proletariat itu sudah

            Yohanes Sumaryanto                                             47
   62   63   64   65   66   67   68   69   70   71   72