Page 92 - index
P. 92

80                                        Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme


                   “Acara di televisi ‘kan banyak sinetron. Aku males kalau nonton sinetron
                   terus. Aku biasanya senang baca komik. Biasanya sekitar jam 7-10 malem, aku
                   baca-baca komik. Pokoknya yang penting PR sudah beres semua. Papaku nggak
                   apa-apa kok aku baca, yang penting bisa mengatur waktu.....”, tutur Rani.
                    Studi ini lebih lanjut menemukan, di kalangan remaja urban, pergi ke
              toko buku dan melakukan aktivitas membaca untuk kesenangan tampak-
              nya tidak berbeda dan sama pentingnya dengan aktivitas pleasure yang lain,
              seperti jalan-jalan bersama teman, shopping, bermain, membeli dan berganti
              tipe gantungan handphone, atau juga mengikuti perkembangan mode fashion
              (terutama remaja perempuan). Berbeda dengan kegiatan membaca untuk
              belajar yang dinilai membebani, membaca untuk kesenangan sifatnya suka
              rela dan menjadi pilihan personal masing-masing remaja urban di waktu lu-
              ang, dan bahkan menjadi salah satu cara bagi remaja urban untuk mengek-
              spresikan identitas dirinya ke hadapan teman-temannya.

                    Dari wawancara mendalam yang telah dilakukan, studi ini
              menemukan bahwa salah satu aktivitas wajib yang dilakukan remaja urban
              pecandu membaca tatkala ada waktu luang atau liburan adalah berkunjung
              ke toko buku mencari bacaan terbitan terbaru yang menarik hati mereka.
              Bagi remaja urban seperti ini, membawa bacaan adalah salah satu “bekal”
              atau prasyarat yang harus ada jika mereka bepergian atau jika mereka ingin
              mengisi waktu luang mereka. Tidak membawa bacaan ketika liburan, di
              mata informan yang diwawancarai adalah sama dengan seseorang yang
              ketinggalan handphone ketika pergi ke luar rumah: ada sesuatu yang terasa
              kurang dan bahkan mengganjal.
                   “Aku kalau pergi ke manapun pasti bawa bacaan. Soalnya kalau nganggur
                   nunggu dokter gigi, misalnya, kalau nggak baca jadinya resah. Kayak
                   handphone ketinggalan kan nggak enak. Nggak bawa bacaan juga nggak enak.
                   Aku kalau bawa malah sampe 3-4 buku. Takut habis di tengah jalan, terus tidak
                   ada bacaan nanti nggak enak. Dulu, pernah aku antri dokter 2 jam lebih, terus
                   lupa bawa bacaan. Jadinya buuoosen (sangat bosan, pen). Aku itu paling sebel
                   kalau antri ke dokter gigi....”, tutur Evelyn.

                    Sebagai remaja yang lebih senang membaca, jika dilihat dari jumlah
              bacaan yang dihabiskan setiap hari atau setiap minggunya, studi ini
              menemukan antara informan satu dengan informan yang lain berbeda-beda,
   87   88   89   90   91   92   93   94   95   96   97