Page 94 - index
P. 94
82 Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme
langsung tidur..... Kalau baca nggak sampai tuntas rasanya nggak enak...”, tutur
Gracia.
Jika dalam cerita atau kisah yang dituturkan dalam bacaan memang
benar-benar menarik minat, studi ini menemukan tidak jarang terjadi remaja
urban sepertinya lupa makan dan tidur –semata karena penasaran ingin
mengetahui ending ceritanya seperti apa. Entah itu novel atau komik serial,
bagi remaja yang memang gemar membaca, semuanya terasa mengasyikan,
karena mereka membaca tanpa harus dibebani dengan berbagai kewajiban,
seperti ketika mereka belajar di sekolah. Dalam aktivitas membaca untuk
kesenangan, di sana tidak ada kewajiban melaporkan apa yang mereka baca
kepada guru atau orang tuanya, dan tidak ada pula paksaan bahwa mereka
harus menghabiskan sebuah bacaan kalau memang bacaan itu di tengah
jalan atau di halaman-halaman pertama dibaca sudah dirasa tidak menarik,
dan tidak mereka sukai. Seorang informan menyatakan, ia pernah terkecoh
dengan sampul sebuah novel yang tampak bagus. Ia mengaku memutuskan
membeli novel itu, tetapi karena isinya dinilai membosankan, maka belum
sampai separuh buku pun, ia kemudian memilih berganti membaca novel
yang lain.
“Kalau ndak ada tugas sekolah, aku biasanya baca-baca buku. Buku terakhir
yang tak baca “Mimpi-mimpi Lintang, Maryamah Karpov, Andrea Hirata.
Lumayanlah, tapi masih bagus Laskar Pelangi dan Edensor. Ya, untuk ngisi
waktu aja. Daripada nonton televisi terus, capek. Aku kalau mau tidur biasanya
baca-baca dulu sampai ngantuk...”, tutur Nico.
“Kalau lagi libur sekolah, Sabtu terutama aku biasanya tidur sampai jam 12
malam. Minggu lalu, aku baca Breaking Down, lanjutannya Twilight, New
Moon dan Eclipse. Ceritanya bagus. Bukunya Bahasa Inggris, jadi agak sulit.
Tapi, ya biar tak baca saja. Soalnya aku penasaran gimana nasibnya Edward
dan Bella. Aku baca buku itu 4 hari penuh. Pas ngak ada ulangan, jadi tak kebut
terus. Pokoknya Edward dan Bella akhirnya menikah dan punya anak.....”,
tutur Nadia.
“Kadang-kadang kalau beli buku aku keliru milih. Soalnya, buku-buku itu
diberi bungkus plastik. Sebel. Tapi, sampulnya yang membuat aku tertarik beli.
Setelah dibuka di mobil dan dibaca, ndak tahunya jelek. Aku ya tidak nerusin
baca. Males, soalnya kalimatnya membingungkan.........”, tutur Rani.

