Page 194 - index
P. 194
Perkembangan Masyarakat Informasi & Teori Sosial Kontemporer
dan riset. Pada fase kedua ini, upaya untuk lebih membumikan teori dan
kajian postmodern menjadi lebih mengemuka, terutama ketika disadari
masyarakat telah berkembang makin jauh ke dalam era post-industrial,
era global, era kapitalisme multinasional yang melahirkan hiperrasio-
nalisasi, hiperkomodiikasi, hiperdif hiper-individualisasi.
Berbeda dengan pemikir dan teoretisi postmodern seperti Lyotard,
Derrida, Foucault, Jameson, dan Baudrillard yang lebih banyak menge-
Prenada Media Group
tengahkan wacana dan termasuk aliran postmodern epistemologi, se-
jumlah ahli teori postmodern yang muncul sesudahnya lebih banyak
masuk pada ranah penteorisasian dan kerja empiris, serta masuk pada
tema-tema kajian yang lebih membumi dengan subjek kajian yang lebih
spesiik dan kontekstual. Agger (2003), misalnya, menyatakan bahwa
salah satu penerapan nyata teori postmodern (empiris) yaitu pada anali-
sis budaya dan kajian media yang dalam era masyarakat post-industri-
al menentukan perilaku ekonomi dan gaya hidup masyarakat. Dalam
perkembangan perdebatannya, Jones (2009: 216-218) menyatakan bah-
wa teori dan metodologi postmodern bagaimanapun harus diakui telah
membuat kemajuan berarti dalam antropologi, sejarah, sosiologi, dan il-
mu politik. Pendekatan postmodern dalam penelitian lapangan secara
khusus melibatkan penceritaan (narrativity) dan interpretasi, menan-
tang positivis dan pendekatan lain terhadap teori dan metode yang telah
sekian lama mendominasi, sehingga menyegarkan kembali perbincang-
an tentang positivistik dan metodologi postmodern yang makin empiris.
Grossberg (1997) menegaskan bahwa baik studi budaya maupun teo-
ri postmodern yaitu anti-esensialis dan sangat kontekstual, bahwa ke-
duanya menolak penolakan dekonstruksionalis ekstrem terhadap semua
makna dan sikap tetap. Kedua teori ini lebih memedulikan persoalan-
efektivitas, kondisi-k k overdeterminasi
originalitas. K teoretis
yang saling menyapa ini lebih berpusat pada kekuasaan, penguasaan, dan
penolakan, dan bisa diartikulasikan dengan politik radikal dan gerakan
sosial baru (lihat Ritzer & Smart, 2011: 802). Stuart Hall (1980)—salah
seorang teoretisi Cultural Studies yang terkenal—menyatakan bahwa di
era postmodernisme global, studi budaya cenderung memfokuskan ka-
jian pada fragmentasi kebudayaan, pengenalan dengan suara-suara yang
182

