Page 192 - index
P. 192
Perkembangan Masyarakat Informasi & Teori Sosial Kontemporer
kebenaran, melainkan yang lebih penting yaitu bagaimana memahami
kebenaran sebagai sesuatu yang plural. Untuk dapat memahami realitas
sosial secara utuh, karena itu dalam perkembangan yang terakhir, teore-
tisi postmodern cenderung mengembangkan teori dan metodologi yang
sifatnya eklektif sebagai konsekuensi dari sifatnya yang transdisipliner.
Sebagai suatu teori sosial, mungkin benar bahwa postmodern banyak
Prenada Media Group
logosentrisme), na-
mun teoretisi postmodern tidak pernah menutup diri untuk menerima
keberagaman dan alternatif cara pandangan teori sosial lain yang kon-
struktivistik dan interpretatif—sepanjang realitas sosial yang dibangun
telah mempertimbangkan suara liyan (the others).
Dalam satu-dua dekade terakhir muncul terminologi, seperti post-
modernisme oposisional, postmodernisme resistensi atau postmodernis-
me kritis, indikasi yang memperlihatkan bahwa teori sosial postmodern
sendiri saat ini telah mengalami metamorfose atau perkembangan yang
makin beragam dan eklektif. Terlepas dari berbagai kritik yang dialamat-
kan kepada teori postmodern dan metode yang digunakan, hingga kini
teori ini tetap populer dan makin kukuh diakui mampu menawarkan kele-
bihan dalam memahami realitas masyarakat kontemporer yang diwarnai
hiperrealitas, representasi tanda, dan meningkatnya perilaku konsumsi.
Perkembangan teori kritis yang dipelopori Mazhab Frankfurt, mi-
salnya diakui telah memberikan landasan normatif bagi perkembangan
lebih lanjut dari teori sosial postmodern, yakni suatu dasar untuk
membedakan relasi sosial yang menindas dengan relasi sosial yang mem-
bebaskan. Tanpa dasar ini, maka paparan teori sosial postmodern sangat
mudah mengarah ke nihilisme dan kemandegan (Denzin & Lincoln, 2009:
179). Sementara itu, bagi studi-studi etnograi, perkembangan teori so-
sial postmodern diakui juga telah mendorong lahirnya antropologi
postmodern yang lebih didorong untuk memadukan teknik dan kognisi
ketajaman pemahaman modernis yang berciri membebaskan dengan
gairah terus-menerus untuk melaporkan realitas—selain realitasnya
objektif. Artinya, etnograf
tidak mau dituntut untuk bertanggung jawab memahami teknik este-
tertentu, montase, negatif, lain-
180

