Page 187 - index
P. 187
BaB 6 | Teori Sosial Postmodern
Sebagai seorang teoretikus antisekolah, anti-institusi, dan
antitek-nologi, Illich menaruh perhatian pada ciptaan-ciptaan yang
memba-tasi kemungkinan perluasan persahabatan dengan “yang lain”
dapat melintasi berbagai batasan (Palmer, 2010: 302-303). Lebih dari
sekadar menawarkan gagasan yang melawan arus, dalam praktiknya
Illich bahkan memilih meninggalkan gereja, tidak lagi menjadi pastur,
dan memutuskan menjadi Direktur CIDOC (Center of Intercultural
Prenada Media Group
Documentation) yang merupakan salah satu lembaga kajian untuk
Allianc f P P
Kennedy karena dinilai hanya menyebarluaskan cita rasa borjuis yang
mengorbankan budaya dan kehidupan Amerika Selatan. Seperti ju-ga
Paulo Freire, buku Illich yang berjudul Deschooling Society telah di-
terbitkan pada 1970—cukup jauh sebelum istilah postmodern yang di-
tawarkan Lyotard menjadi bahan diskusi di kalangan ilsuf dan teoretisi
sosial.
g. KrItIK terhADAP teorI sosIAl PostmoDerN
Sebagai teori sosial, postmodern harus diakui telah menawarkan
tersendiri, khas,
lebih kontekstual. Lyotard (1984) misalnya, menyatakan postmodern-
isme adalah pembebasan dari kekangan kemurnian rasionalitas dari wa-
cana induk modernitas yang totaliter (Jonathan Friedman, dalam Kuper
& Kuper, 2000: 814). Namun karena sifat teori ini yang senantiasa me-
lontarkan kritik keras kepada teori sosial modern dan kegagalan proyek
modernitas, maka sering kali pemikiran dan teori sosial postmodern di-
kiritik karena cenderung mengarah pada pluralisme radikal dan liberal.
Menurut Best dan Kellner (1991: 165), pemikiran dan teori post-
modern dinilai gagal mengkaji modernitas sebagai fenomena sosio-eko-
nomik, dan hanya melihat modernitas yang diasosiasikan dengan Pen-
cerahan sebagai perspektif yang hanya mengedepankan universalisasi
metanaratif tunggal. Dalam teori sosial postmodern, salah satu asumsi
dasar yang penting yaitu penolakan postmodern terhadap grand narra-
tives—seperti kebebasan, emansipasi, dan kemajuan—, tetapi ironisnya
adalah ia sendiri justru membangun kembali suatu narasi besar bagi
postmodern, yakni keabsolutan narasi kecil yang universal. Dalam buku-
175

