Page 188 - index
P. 188
Perkembangan Masyarakat Informasi & Teori Sosial Kontemporer
nya Postmodernism and Environmental Crisis, Arran E. Gare (1995, dalam
Wora, 2006: 108-112) menguraikan beberapa signiikansi kondisi kultur
postmodern. Signiikansi itu selain ketidakpercayaan pada grand nara-
tives, yang lainnya yaitu berkurangnya rasa akan sejarah personal dalam
diri masyarakat manusia, serta terpenggalnya waktu ke dalam interval
yang tidak punya kaitan satu dengan yang lainnya. Selanjutnya, ada
persoalan-persoalan tentang pelemahan (disempowerement) terhadap
Prenada Media Group
masyarakat serta hilangnya praksis-praksis yang asli. Akibat keterpu-
tusan budaya postmodernisme dari usaha pencarian suatu orientasi aksi
karena hidup dalam orientasi konsumer, maka yang muncul kemudian
yaitu karakter kedangkalan dari sensibilitas postmodernisme, perayaan
permukaan (the celebration of surfaces) serta penolakan terhadap dis-
tingsi antara esensi dan penampakan (antara kesadaran benar dan salah,
keaslian dan kepalsuan dan antara penanda, dan yang ditandakan).
Dalam konteks ini, Habermas mengkritik pemikiran aliran postmo-
dern, karena teori postmodern dinilai gagal mengatasi dilema atau prob-
lem kesadaran (rasionalitas) pencerahan yang mendasari modernitas.
(1987), konser
berbahaya atas proyek modern yang belum sempurna, suatu penyerahan
kepada kegagalan kadar pembebas dari proyek (Friedman, dalam Kuper
& Kuper, 2000: 816).
Sikap para teoretisi postmodern yang mengkritik modernitas secara
berlebihan terkadang dinilai terlalu larut dalam sikap putus asa, kecewa
dan serba nyinyir pada kenyataan masyarakat modern. Frow (1997) de-
ngan nada agak sarkastis karena itu menyatakan bahwa postmodern se-
betulnya hanyalah genre tentang penulisan teori, bukan deskripsi tentang
dunia (Hartley, 2010: 243). Sementara itu, John O’Neill (1995) menyatakan
bahwa postmodern yaitu omong kosong seluas langit yang gelap, dan
merupakan momentum pemikiran yang telah mati (Ritzer, 2012: 1091).
Pendek kata, di balik semua tawaran penjelasan baru yang melawan arus,
teori postmodern dinilai sebagian pihak sebagai hal yang bukan ilmiah,
tidak mudah dipahami, terlalu abstrak, dan dianggap hanya sebagai ba-
gian dari perkembangan mode intelektual yang akan lewat dengan sendi-
rinya ketika muncul mode baru lain yang menawarkan hal yang berbeda;
semacam kegenitan intelektual yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
176

