Page 183 - index
P. 183

BaB 6  |  Teori Sosial Postmodern

                Menurut Bauman, masyarakat modern kontemporer umumnya akan
            selalu dihadapkan dengan pengharapan yang divergen dan salin g ber ten-
            tangan, di mana masing-masing orang dibebaskan dari suatu kekuasa an
            yang bersifat memaksa. Mereka harus aktif membuat kehidupan nya send-
            iri, memilih dari dalam suatu “supermarket identitas”. Tidak lagi menjadi
            suatu persoalan bagaimana mencapai identitas, tetapi yang menjadi soal
            yaitu identitas mana yang akan dicapai. Di era masyarakat modern likuid,
        Prenada Media Group
            individualisasi telah mentransformasikan identitas manusia dari identitas
            yang ditentukan menjadi identitas yang diinginkan (lihat Bauman, 2000;
            Tester, 2004: 107-182). Artinya, tidak lagi menjadi persoalan bagaimana
            mencapai suatu identitas yang diinginkan,  tetapi identitas mana yang
            hendak dicapai. Bauman cenderung mendeskripsikan modernitas likuid
            sebagai suatu masyarakat yang diindividualisasi dan diprivatisasi.

                Masyarakat kontemporer umumnya menghadapi ketidaktentuan
            politik dan ekonomi yang besar dan harus mengatasi rasa ambivalen-
            si dan ketidakterjaminan eksistensi yang semakin besar,  serta rasa
            ketidakpastian.  Bauman juga menyatakan bahwa kehidupan yang cair
            yaitu kehidupan yang mengonsumsi. Bauman sama seperti Daniel Bell,
            menyatakan bahwa di era masyarakat post-industrial,  konsumerisme
            telah menggantikan etika kerja sebagai landasan bagi identitas dan in-
            tegrasi sosial (Scott, 2012: 348). Hanya saja bedanya, kalau Bell melihat
            perkembangan konsumerisme sebagai konsekuensi dari pertumbuhan
            kelas pengetahuan yang diistimewakan,  Bauman memahami hal itu
            seba gai cermin dari masyarakat berisiko. Konsumerisme, menurut Bau-
            man memungkinkan masyarakat untuk melupakan dan meredakan ke-
            cemasan mereka tentang ketidaktentuan dalam hidup mereka.
                Scott Lash sebagai salah seorang teoretisi sosial memandang post-
            modernisme sebagai suatu paradigma kultural atau yang ia sebut se-
            bagai lingkup penandaan yang terdiri dari dua komponen utama, yaitu
            ekonomi kultural serta cara penandaannya yang khas, yaitu bahwa objek
            kulturalnya bergantung pada hubungan khas yang dimiliki oleh penan-
            da, yang ditandakan dan acuannya (Lash, 2004: 15).
                Modernisme, dalam pandangan Lash adalah suatu proses diferen-
            siasi kultural yang berkaitan dengan dua hal. Pertama, proses di mana
            yang kultural memisahkan dari yang sosial. Kedua, bentuk-bentuk kul-



                                                                       171
   178   179   180   181   182   183   184   185   186   187   188