Page 51 - index
P. 51
BaB 3 | Ruang Publik, Civil Society & Digital Natives: Perspektif Jürgen Habermas
(1977) dan Manuel Castells (1996) merupakan dua ahli yang termasuk
pionir dalam perkembangan teori masyarakat informasi.
Menurut Bell, ada dua indikasi utama dari perkembangan masyara-
kat pasca-industrial, yakni penemuan miniatur sirkuit elektronik dan
optikal yang mampu mempercepat arus informasi melalui jaringan, ser-
ta integrasi dari proses komputer dan telekomunikasi ke dalam teknolo-
gi terpadu yang disebut dengan istilah “kompunikasi” (Cabin & Dortier
Prenada Media Group
[Eds.], 2004: 149-158). Sementara itu, Castells menyatakan saat ini du-
nia sedang memasuki “zaman informasi” di mana berbagai kemajuan
teknologi informasi digital telah “menyediakan dasar materi” bagi “per-
luasan pervasive” dari apa yang ia sebut bentuk jejaring dari organisasi
dalam setiap keadaan struktur sosial. Di masyarakat post-industrial, in-
tegrasi internet ke dalam berbagai dunia kehidupan telah menciptakan
bentuk baru identitas dan ketidaksetaraan, menjadikan kekuasaan ba-
gian dari arus desentralisasi sekaligus melahirkan bentuk-bentuk baru
organisasi sosial.
Castells (1996), menyatakan bahwa di era revolusi informasi, sela-
in ditandai dengan perkembangan teknologi informasi yang luar biasa
canggih, juga muncul apa yang ia sebut sebagai kebudayaan virtual riil,
yaitu satu sistem sosial-budaya baru di mana realitas itu sendiri se-
penuhnya tercakup, sepenuhnya masuk dalam setting citra maya, di du-
nia fantasi, yang di dalamnya tampilan tidak hanya ada di layar tempat
dikomunikasikannya pengalaman, namun mereka menjadi pengalaman
itu sendiri (Ritzer & Goodman, 2008: 632). Masyarakat yang semula ber-
interaksi dalam ruang yang nyata dan bertatap muka, dengan kehadiran
internet mereka kini bisa berinteraksi dengan siapa pun, tanpa harus
dibatasi nilai dan norma, sehingga di kalangan warga masyarakat yang
mengembangkan hubungan dalam jejaring komputer, tak pelak mereka
pun tumbuh dengan subkulturnya yang khas—yang berbeda dengan ma-
syarakat yang selama ini mengembangkan hubungan sosial tatap muka.
Menurut Castells (2000), kekhasan teknologi informasi (TI) bukan
terletak pada kemampuannya mengimbas realitas maya ke dunia nya-
ta, melainkan kemampuannya membangun kemayaan yang nyata atau
real virtuality. Dengan kata lain, kehadiran teknologi informasi terbukti
mampu menghadirkan efek suatu peristiwa atau entitas secara aktual,
39

