Page 52 - index
P. 52

Perkembangan Masyarakat Informasi & Teori Sosial Kontemporer

            padahal peristiwa atau entitas itu sendiri tidak riil (Supeli dalam Hardi-
            man, 2010: 338). Dengan kata lain, di era masyarakat post-industrial, re-
            alitas sosial bahkan boleh dibilang telah mati, untuk kemudian diambil
            alih oleh realitas-realitas yang bersifat virtual, realitas cyberspace. Dunia
            baru yang dimediasi oleh hadirnya teknologi infomasi yang makin maju
            dan supercanggih telah melahirkan hal-hal yang serba virtual: kebuda-
            yaan virtual dan komunitas virtual (virtual community).
        Prenada Media Group
                Seperti dikatakan Piliang (2004: 64), bahwa di era revolusi informa-
            si, masyarakat memang masih berinteraksi satu dengan yang lain, tetapi
            kini tidak lagi dalam komunitas yang nyata, tetapi di dalam komunitas
            virtual. Internet sebagai satu bentuk jaringan komunikasi dan informasi
            global telah menawarkan bentuk komunitas sendiri (virtual community),
            bentuk realitasnya sendiri (virtual reality), dan bentuk ruangnya sendiri
            (cyberspace), sekaligus melahirkan pula konsekuensi sosial yang mung-
            kin tidak terbayangkan bakal terjadi sebelumnya. Perkembangan tekno-
            logi informasi, dalam konteks ini bukan hanya menampilkan citra dan
            tontonan, melainkan juga meleburkan batas antara fakta dan iksi (Borg-
            mann, 1999: 192).
                Di era masyarakat post-industrial yang didominasi teknologi infor-
            masi,  yang terjadi sesungguhnya bukan hanya perubahan dalam pola
            interaksi sosial dan cara berkomunikasi yang dikembangkan masyarakat
            (terutama anak muda),  melainkan juga perubahan sikap dan perilaku
            masyarakat menyikapi realitas sosial yang ada di sekitarnya.  Realitas
            sosia l saat ini tidak lagi dipahami masyarakat sekadar sebagai objek atau
            hal-hal yang teramati, tetapi kini sudah menjadi sesuatu hal yang mele-
            wati atau melampaui realitas itu sendiri—atau yang lazim disebut seba-
            gai hiperrealitas (hyperreality).  Hal yang disebut sebagai dunia hiper-
            realitas atau dunia yang melampaui realitas (hyperreality) pada dasarnya
            adalah realitas yang bersifat artiisial atau superisial, yang tercipta lewat
            bantuan teknologi simulasi dan rekayasa pencitraan,  yang mengambil
            alih dunia realitas yang alamiah. Hiperrealitas merupakan model-model
            realitas,  yang tidak ada referensinya pada realitas.  Hiperrealitas tidak
            memiliki rujukan atau referensi pada realitas—sebagaimana umumnya
            dunia representasi atau pertandaan—melainkan merujuk pada dirinya
            sendiri (self-reference).



            40
   47   48   49   50   51   52   53   54   55   56   57