Page 55 - index
P. 55
BaB 3 | Ruang Publik, Civil Society & Digital Natives: Perspektif Jürgen Habermas
masyarakat sipil yang madani untuk melakukan kontrol demokratik ter-
hadap perilaku kelas yang berkuasa dan kelas kapitalis yang acap kali
mengeksploitasi masyarakat.
Habermas, sebagai representasi generasi kedua Mazhab Frankfurt
me nampilkan dirinya sebagai penjaga proyek modernitas—yang menu-
rutnya merupakan tujuan pencerahan. Berbeda dengan Foucault, yang
disebutnya sebagai seorang irasionalis dan Baudrillard yang dianggap-
Prenada Media Group
nya sebagai neokonservatif, Habermas yakin bahwa di zaman modern
seperti sekarang ini dapat direvitalisasi dan dibangun ulang dalam lan-
dasan yang tepat bersamaan dengan piranti intelektual yang pertama
kali dikembangkan selama abad ke-18 (Turner, 2003: 150).
Secara khusus, dalam upaya mengembangkan teori dan analisisnya
tentang ruang publik, Habermas membuka dialog antara teori kritikal
lainnya, hermeneu tik,
Gadamer, teori sistem dan struktural-fungsional, ilmu sosial empi ris,
linguistik, kognitif, perk ka-
jian moral. Habermas, menurut Honneth (1987), mencapai premis fun-
damen tal teorinya dengan mengacu pada dan setelah mempelajari ilsa-
fat hermeunetika dan analisis bahasa Wittgenstein. Dari hal-hal inilah
Habermas mengetahui kalau subjek-subjek manusia ab initio, yakni sela-
lu siap untuk disatukan satu sama lain melalui upaya meraih pemaham-
an di dalam bahasa (Giddens & Turner, 2008: 648).
Habermas menyintesiskan berbagai teori yang ia kaji seperti dise-
butkan di atas menjadi teori aksi komunikatif, yang mewakili dasar dan
kerangka teori sosial yang dibangun dalam tradisi Marxis, Weber, dan
teori kritis klasik. Tetapi berbeda dengan Marx yang terlalu memfokus-
kan analisisnya pada kerja sebagai hakikat manusia, Habermas membe-
dakan pengertian kerja dan interaksi sosial. Dalam berbagai karyanya
Habermas acap kali menggunakan istilah tindakan komunikatif untuk
menjelaskan mengapa individu dapat melakukan interaksi sosial dan
mencapai tujuannya dengan syarat mereka dapat mengharmoniskan
bersama.
dengan tujuan tindakan rasional-bertujuan yang hanya untuk mencapai
satu sasaran, tindakan komunikatif yakni untuk mencapai pemaham-
an komunikatif. Di mata Habermas, tindakan komunikatif merupakan
43

