Page 59 - index
P. 59

BaB 3  |  Ruang Publik, Civil Society & Digital Natives: Perspektif Jürgen Habermas

                Dalam ruang publik yang didominasi media massa yang dikuasai
            kekuatan komersial,  terutama media elektronik,  hubungan rasional
            sering kali sulit terwujud karena media massa tersebut kerap menjadi
            perpanjangan tangan kapitalis global atau kekuatan politik yang ingin
            memperluas pengaruhnya di kehidupan sosial. Media massa yang bersi-
            fat komersial tersebut dipenuhi oleh berbagai bentuk ilusi, fantasi, dan
            citraan gaya hidup yang bersifat irasional dan semu. Sementara itu, di
        Prenada Media Group
            sisi yang lain, media massa yang dikuasai negara acap kali juga dipenuhi
            dengan citraan-citraan hiperrealitas yang penuh dengan distorsi atas
            ke be naran, pemutarbalikan fakta dan penyelewengan makna (Sutrisno,
            et al.,  tanpa tahun: 235-236).  Ruang publik di dalam era masyarakat
            post-in dustrial, sering kali telah menjadi objek kekuasaan kelas kapitalis
            yang berkuasa,  yang kemudian mengubahnya dari lingkup perdebatan
            rasional yang terbuka dan bebas menjadi lingkup intervensi dominasi,
            manipulasi, pasivitas, dan juga pembiakan perilaku konsumtif masyara-
            kat yang seolah tak pernah dapat terpuaskan.
                Habermas menyatakan paling tidak ada dua wilayah yang menjadi
            korban hegemoni pasar atas demokrasi dan ruang publik. Pertama, pada
            wilayah sosial di mana media massa tidak lagi menjadi fasilitas diskursus
            rasional,  tetapi menjalankan konstruksi,  seleksi dan formasi diskursus
            itu menjadi komoditas hiburan yang dapat dikonsumsi secara pasif oleh
            pemirsa. Posisi dan peran masyarakat yang seharusnya menjadi bagian
            dari masyarakat madani yang mampu melakukan kontrol dan otonom,
            pada akhirnya harus tunduk pada kekuatan kapitalis yang menghegemoni,
            yang mendiktekan hasrat dan selera masyarakat seba gai konsumen yang
            senantiasa tak pernah terpuaskan. Ruang publik, da lam konteks ini pada
            akhirnya bukan mengetengahkan perdebatan yang produktif, melainkan
            telah berubah menjadi arena tampilan iklan atau media promosi atas
            produk-produk yang dihasilkan kekuatan industri budaya. Kedua, pada
            wilayah politis,  peran partai politik yang diharapkan dapat menyerap
            aspirasi sosial-politik masyarakat dan kemudian memperjuangkannya
            sebagai bagian dari program pembangunan,  ternyata dalam banyak
            kasus berubah menjadi komoditas politik yang dipertukarkan di meja-
            meja parlemen untuk menjamin kemenangan dalam voting, atau menjadi
            komoditas untuk politik pencitraan bagi para wakil rakyat atau penguasa



                                                                        47
   54   55   56   57   58   59   60   61   62   63   64