Page 57 - index
P. 57
BaB 3 | Ruang Publik, Civil Society & Digital Natives: Perspektif Jürgen Habermas
dan seimbang. Dalam banyak kasus, ketika penguasa ingin memperta-
hankan status quo, atau ketika kekuatan kapitalisme ingin menguasai
selera pasar, maka yang terjadi biasanya yaitu proses komunikasi akan
terdistorsi secara sistematis.
Anak-anak muda yang merupakan bagian dari digital natives, di atas
kertas mereka sebetulnya memiliki peluang untuk mengakses ruang
publik dan memanfaatkannya untuk menyalurkan aspirasi sosial-politik
Prenada Media Group
mereka—tanpa khawatir akan dihambat oleh regulasi kelas yang berkua-
sa melalui wewenang mereka membatasi kebebasan media atau melaku-
kan penyumbatan media komunikasi yang ada. Tetapi ketika anak-anak
muda ini hidup dalam habitat yang lebih banyak dikendalikan kekuatan
industri komersial yang kapitalistik, dan cita rasa atau selera anak muda
lebih banyak hasil bentukan hegemoni pasar daripada selera yang oto-
nom, maka membayangkan kalangan digital natives ikut ambil bagian
me manfaatkan ruang publik untuk mempercepat proses demokratisasi
di Indonesia tampaknya masih jauh dari panggang api.
Per teori, kehadiran media massa yang seharusnya menjadi pilar ke-
empat demokrasi memang diharapkan dapat menjadi instrumen yang
membuka wawasan anak-anak muda dari hegemoni informasi yang ser-
ba tunggal seperti era Orde Baru dahulu. Di era pascareformasi, ketika
media berkembang makin terdiferensiasi, dan informasi yang diekspos
ke publik makin beraneka ragam, seharusnya yang terjadi kemudian yai-
tu munculnya sikap kritis yang makin meningkat dan anak-anak muda
menjadi bagian dari gerakan civil society yang makin berdaya untuk terus
mengembangkan kontrol terhadap para penguasa. Tetapi karena media
massa yang berkembang di Indonesia umumnya dioperasikan sebagai
entitas bisnis yang dikembangkan untuk kepentingan pencitaan keun-
tungan dan penumpukan modal, maka yang terjadi kemudian dan yang
tak terhindarkan yaitu media massa lantas lebih banyak berfungsi se-
bagai kekuatan antidemokrasi daripada memerankan diri sebagai pe-
nyangga perkembangan demokrasi (Armando, Prisma Vol. 30-2, 2011:
90-91).
Dalam pandangan Theodor W. Adorno, di era masyarakat post-in-
dustrial, media massa umumnya beroperasi dengan logika industri yang
kapitalistik di mana komoditas diproduksi sebagai respons terhadap
45

