Page 61 - index
P. 61
BaB 3 | Ruang Publik, Civil Society & Digital Natives: Perspektif Jürgen Habermas
yaan warga masyarakat untuk bersuara dan bertukar informasi tanpa
bias kelas sosial. Internet dan media massa, secara teoretis memiliki
po tensi untuk mendorong perkembangan demokrasi, karena memiliki
ka rakteristik interaktif, bertautan dengan jaringan global, menjamin ke-
bebasan berbicara, mampu memfasilitasi relasi sosial yang bebas, me-
mungkinkan pembagian informasi tanpa harus terancam sanksi, dan
me mungkinkan user untuk mengembangkan identitas global maupun
Prenada Media Group
lo kal (Hague & Loaker [Eds.], 1999). Dengan memanfaatkan blog, Face-
book, Twitter, BlackBerry Messenger, situs (web site), diskusi online,
mailing list, dan lain sebagainya yang leluasa dan selalu terbuka setiap
saat untuk diakses siapa pun tanpa bisa dibatasi regulasi politik, kalang-
an digital natives sebetulnya memiliki peluang untuk turut berperan ak-
tif mengembangkan demokrasi deliberatif. Tetapi, karena digital natives
merupakan bagian dari anak-anak muda urban yang tumbuh dengan
karakteristik sosial-budaya yang cenderung haus hiburan dan konsum-
tif, ma ka yang terjadi umumnya mereka bukannya sibuk untuk terlibat
dalam aktivitas pemberdayaan masyarakat dan mengembangkan diri se-
bagai bagian dari gerakan civil society yang militan, melainkan yang lebih
banyak dikembangkan pada akhirnya yaitu aktivitas yang lebih banyak
pleasure dan hedonis. Diakui atau tidak, generasi digital yang tumbuh di
Indonesia, ternyata merupakan kelompok anak muda yang dibesarkan
dalam kebudayaan informasi hasil bentukan kekuatan industri budaya
yang dalam banyak kasus malah menjauhkan anak muda dari hasrat un-
tuk terlibat aktif dalam proses demokratisasi.
Digital natives yaitu generasi yang tumbuh dan dibesarkan teruta ma
oleh media massa dan internet. Mereka merupakan generasi yang dapat
di pahami lewat tontonan dan suara budaya media, tumbuh dan bergaul
dengan layar kaca, yang sekaligus dijadikan penenang, pengasuh, serta
pendidik mereka oleh generasi tua yang menganggap budaya media,
terutama televisi sebagai latar belakang dan bagian penting kehidupan
sehari-hari (Kellner, 2010: 196). Digital natives merupakan generasi yang
tum buh dengan setting perkembangan teknologi informasi, terutama
hand phone dan internet yang akan dapat membawa generasi muda me-
langlang buana, berselancar di dunia maya yang tanpa batas.
Bagi sebagian anak muda yang kritis, terlibat dalam aktivitas de-
49

