Page 65 - index
P. 65

BaB 3  |  Ruang Publik, Civil Society & Digital Natives: Perspektif Jürgen Habermas

            yang berbeda; (2) no sense of place, interaksi yang terjadi di dunia yang
            menyediakan konsep anonimitas, yang memungkinkan terjadinya mul-
            tiplikasi peran dan jati diri; (3) blurred boundaries and transformed
            communities, batasan-batasan yang umumnya terdapat di dunia nyata
            menjadi kabur dan komunitas virtual yang baru terbentuk (Rettie, 2002).
            Khusus untuk digital natives,  secara lebih perinci beberapa ciri atau
            karakteristik yang menandai sebagai berikut: freedom,  customization,
        Prenada Media Group
            scrutin, integrit, collaboration, entertainment, dan speed.
                Di kalangan digital natives, kemungkinan menyapa atau menggoda
            orang untuk sekadar bermain-main menonton internet (playful suring)
            pada gilirannya justru memicu rasa ingin tahu yang malas (Supeli, dalam
            Hardiman, 2010: 343), dan bahkan bukan tidak mungkin melahirkan si-
            kap yang apatis terhadap hal-hal yang berkaitan dengan perjuangan de-
            mokrasi.  Seperti dikatakan John Shirley (1992),  cybernetic  person  tidak
            tertarik pada ide demokrasi atau masyarakat madani—di mana aturan
            main dan konsensus memegang peranan. Cybernetic person dalam ban-
            yak hal bersikap antidemokrasi.  Mereka merupakan individu-individu
            yang terampil dan cerdas, serta memiliki kemampuan dan akses untuk
            mengendalikan teknologi komunikasi informasi untuk tujuan pribadi,
            seperti kesenangan,  keuntungan,  prinsip,  atau perkembangan dirinya
            sendiri (Wattimena, dalam Sutrisno, tanpa tahun: 241).


            c.  ruANg PuBlIK: PrAsyArAt yANg DIButuhKAN

                Di era masyarakat post-industrial,  yang disebut ruang publik bisa
            juga disebut sebagai agora electronic.  Agora  adalah suatu pasar yang
            berkembang di Athena,  yang berfungsi sebagai tempat bagi warga un-
            tuk berkumpul,  berbincang,  berdebat,  bergosip,  dan berdialog mencari
            solusi atau titik temu,  menciptakan konsensus dan menemukan titik
            lemah gagasan-gagasan politik yang ada dengan mendebatnya. Semen-
            tara itu, yang disebut Wattimena (tanpa tahun) sebagai agora elektronik
            adalah ruang dalam cyberspace yang menjadi arena bagi seluruh warga
            masyarakat atau komunitas cyber untuk menyampaikan apa pun aspirasi
            sosial-politik mereka.

                Bagi kalangan digital natives, peluang untuk mengembangkan agora
            elektronik  dan memanfaatkan ruang publik sebagai arena untuk mem-



                                                                        53
   60   61   62   63   64   65   66   67   68   69   70