Page 63 - index
P. 63
BaB 3 | Ruang Publik, Civil Society & Digital Natives: Perspektif Jürgen Habermas
kung internet cepat dan gadget seperti BlackBerry, sehingga tidak ada
lagi jurang antara jarak dan waktu. Apa pun yang mereka ingin ketahui
dan inginkan, maka saat itu pula akan bisa dilacak dengan cara berse-
lancar di dunia maya yang tanpa batas. Di kalangan remaja urban, istilah
berselancar di dunia maya, mengunduh lagu atau video dari YouTube,
Hollywood, idola,
membuka Facebook, Twitter, dan lain sebagainya, boleh dikata meru-
Prenada Media Group
pakan dunia keseharian yang kini tengah mereka jalani dan menjadi ba-
gian dari gaya hidup (life style) remaja urban.
Digital natives adalah generasi yang dilahirkan antara 1977–1997.
Generasi ini disebut net generation, Gen Y, atau Millennials karena mereka
tumbuh di tengah perkembangan dan kecanggihan teknologi internet.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih banyak terpesona
pada televisi, net generation tumbuh sejak awal telah terbiasa dengan
internet. Boleh dikata tidak ada permainan dan aktivitas yang lebih
mengasyikkan bagi net generation, kecuali duduk di depan laptop atau
komputer, dan kemudian melakukan chatting, game online, atau berse-
lancar mencari berbagai informasi yang diinginkan, tanpa ada sedikit
pun tembok penghalang yang mengganggu perkembangan liar pikiran
dan rasa ingin tahu mereka.
Di Amerika, menurut data, bila pada 1983 diperkirakan hanya tujuh
persen keluarga yang mempunyai komputer, maka di tahun 2004 jumlah
ini meningkat 44% dan 60% di antaranya mempunyai anak usia sekolah.
Di tahun 1996, hanya 15% keluarga yang dilaporkan bisa mengakses In-
ternet and World Wide Web, namun dalam tahun ini umumnya pengguna
internet yaitu berusia di bawah 16 tahun. Di tahun 1994, di Amerika
Serikat dilaporkan sekitar 35% sekolah umumnya telah menyediakan
fasilitas bagi siswa untuk bisa mengakses internet, dan saat ini bahkan
100% sekolah telah menyediakan akses internet, sehingga tidak ada lagi
yang namanya siswa di negara adidaya ini yang tidak mengenal internet
(Tapscott, 1998).
Di Indonesia, walaupun tidak ada data kuantitatif yang pasti ten-
tang berapa jumlah remaja urban yang memiliki komputer, laptop,
BlackBerry, iPod, iPad, atau perangkat teknologi informasi canggih yang
lain, tetapi dalam beberapa tahun terakhir bisa dipastikan jumlahnya
51

